Beranda Hukrim Teror Bom Kembali Terjadi, Rakyat Semakin Dihantui

Teror Bom Kembali Terjadi, Rakyat Semakin Dihantui

BERBAGI
Ilustrasi Teror Bom

TEROR bom bunuh diri meledak lagi dan dua kali semalam sekitar jam 21.00 WIB, Rabu 24 Mei 2017, di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur.

Begitu kejadian bom meledak banyak pejabat pemerintah menyatakan jangan takut pada teror bom yang terjadi. Ya memang saya sih tidak takut pada teror bom. Tapi korbannya sudah 3 orang polisi meninggal dunia dan 6 orang luka-luka akibat meledaknya bom di Terminal Kampung Melayu.

Teror bom ini sudah terjadi beberapa kali dan sebelumnya di Sarinah Jakarta. Jika teror bom sejenis terulang terus, apa pula kita ini terus menjadi sasaran teror bom.

Masih kuatkah kita mengatakan “kami tidak takut teror?”

Rasa takut adalah kemanusiaan kita, sangat manusiawi. Menjawab terorisme dengan mengatakan “kami tidak takut” itu sama saja dengan membiarkan terorisme terus berulang. Mengatakan “kami tidak takut teror” sama saja menina-bobokan pemerintah yang lalai menjalankan tugas mengamankan rakyatnya. Menyebarkan #KamiTidakTakut, sama saja membiarkan terus negara tidak berfungsi dengan baik.

Coba pikirkan betapa lalainya negara menjaga keselamatan rakyatnya sendiri. Kok bisa ya fasilitas publik, sebuah terminal bus bisa dibom. Bagaimana pula penjagaan fasilitas publik, terminal bus Kampung Melayu bisa dibom dan tidak ada pengawasan?

Jelas teror ini ditujukan pada rakyat kecil yang biasa menggunakan fasilitas layanan terminal dan angkutan umum. Bom Kampung Melayu ini jelas membuat takut rakyat kecil yang biasa menggunakan fasilitas publik seperti terminal bus atau juga bus kota. Mengena sekali dan rakyat tambah takut jika berada atau ketika menggunakan fasilitas publik.

Jujur saja saya akhirnya takut juga dong. Kalo gak takut itu gak waras juga dan saya masih manusia. Ada korban meninggal dunia dan luka-luka karena teror bom. Ya kalo para pejabat pemerintah bisa saja bilang tidak perlu takut pada teror bom karena mereka menikmati pengawalan ketat aparat sepanjang hari. Nah kalo rakyat kecil siapa yang mengawal mereka. Sementara ada teror bom pemerintah bisa tidak tahu. Apa kerja intelejen pemerintah? Kok bisa tidak tahu ada teror bom.

Baru setelah kejadian pemerintah menyatakan konsen dan perhatian serta melakukan penjagaan. Sudah jatuh korban pak pemerintah, jangan hanya seremonial di depan media seolah menjaga rakyat. Coba rasakan kedukaan yang menyelimuti keluarga korban teror bom. Coba rasakan ketakutan dan kesakitan luka-luka korban teror bom.

Sudah terlambatlah sekarang jaga-jaga dan sibuk. Sebelum terjadi bom meledak kemana dan apa saja kerja kalian? Kok berseru-seru jangan takut. Tapi kalian kerja apa? Kalo kami tidak takut itu hanya menghibur diri sendiri di tengah ketiadaan negara menjaga rakyat.

Sekali lagi jika kita terlalu mudah sering menyatakan tidak takut berarti kita permisif atas kelalaian, lemahnya kinerja pemerintah dan berulangnya teror bom. Jangan takut mengatakan bahwa kita takut karena kita masih manusia. Mari pemerintah agar berfungsi secara baik memberikan rasa aman kepada rakyatnya sendiri. Memberi rasa aman adalah tanggung jawab negara dan jangan dibebankan pada rakyat.

Azas Tigor Nainggolan

*Penulis Ketua Forum Warga Jakarta (FAKTA)

(RMOL)