Beranda Tokoh Penjara Jadi ‘School Of Radicalism’ Bagi Teroris, Ini Penjelasan dan Solusinya

Penjara Jadi ‘School Of Radicalism’ Bagi Teroris, Ini Penjelasan dan Solusinya

BERBAGI
Siti Napaiyah Ariefuzzaman, Promosi Doktor UI.

JABAR, 86NEWS.CO – Pemberantasan terorisme dari masa ke masa terus menjadi ikhtiar semua pihak termasuk para akademisi. Hal ini disebabkan karena, ternyata penjara nyaris tidak memberi deterrance effect atau tidak membuat jera, dan kapok untuk para pelakunya.

Pada beberapa kasus, penjara justru menjadi school of radicalism, semacam kawah candradimuka bagi para teroris. Pelaku yang telah keluar dari penjara justru jadi semakin keras pahamnya dan kembali melakukan teror.

Penjara bagi pelaku teror belum berhasil membuat teroris sadar dan bertaubat sehingga upaya pemberantasan terorisme terhambat. Demikian hal ini disampaikan Siti Napsiyah Ariefuzzaman, saat sidang promosi doktor bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Fisip Universitas Indonesia.

Dalam disertasinya, yang berjudul “Pendekatan Integratif dalam Pembinaan Narapidana Kasus Terorisme: Studi Kasus Lembaga Pemasyarakatan Klas I Cipinang dan Balai Pemasyarakatan Jakarta Timur-Utara” ini, Siti menawarkan Pendekatan baru, yang disebutnya “Social Work Integrative Approach” yakni suatu pendekatan yang melibatkan lintas profesi, lintas disipilin ilmu, yang dilakukan secara komprehensif pada level mikro, mezzo dan makro.

Social worker bisa menjadi¬† case manager (manajer kasus) yang bertanggungjawab atas penanganan seorang narapidana sampai tuntas.” kata Siti, yang juga Dosen Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Siti Napsiyah menjelaskan, yang dimaksud tuntas ini, dalam pengertian selama di lapas mendapat pembinaan, ada program deradikalisasi, rehabilitasi, reintegrasi dan reentry.

“Seorang terpidana teroris diharapkan kembali ke masyarakat, diterima oleh masyarakat dan berperan dalam masyarakat,” jelas dosen kesejahteraan sosial UIN Jakarta ini.

Dalam promosi doktor tersebut, Napsiyah menekankan betapa pentingnya melibatkan pekerja sosial (social worker) dalam pemberantasan terorisme. Lapas kata Siti, bisa menerima sarjana kesejahteraan sosial, Bapas juga bisa menerima social worker untuk pendamping kemasyarakatan.

Baca Juga :  Manager Persib Umuh Muchtar Apresiasi Pemilu di Sumedang Berjalan Sukses

“Selama ini peran pekerja sosial sudah diakui dan diakomodir oleh negara di bidang perlindungan anak, disabilitas dan program kesejahteraan keluarga. Dengan melibatkan social work dalam program pemberantasan terorisme khususnya dalam pembinaan terpidana teroris di Lapas dan Bapas, diharapkan bisa mendorong keberhasilan program secara lebih nyata,” kata Siti.

Sebagaimana diketahui, dalam Disertasi yang berjudul “Pendekatan Integratif dalam Pembinaan Narapidana Kasus Terorisme: Studi Kasus Lembaga Pemasyarakatan Klas I Cipinang dan Balai Pemasyarakatan Jakarta Timur-Utara” ini, Siti menawarkan metodologi, pendekatan pada seorang narapidana teroris akan mendapatkan pembinaan secara terencana dan sistematis yang melibatkan petugas lapas, ahli agama, psikolog, kriminolog ditambah social worker (pekerja sosial).

Dalam Promosi doktor tersebut, Siti Napsiyah Ariefuzzaman, menghadirkan panel penguji yang dipimpin oleh ketua sidang Prof. Dr. Isbandi Rukminto Adi. Adapun penguji lainnya adalah Prof. Dr. Jamhari Makruf (UIN Jakarta), Dr. Makmur Sunusi (Kemntrian Sosial RI), Fentini Nugroho Ph.D (Kesos UI) dan Dr. Eva Anjani, SH. MH (Fakultas Hukum UI). Sementara Promotor adalah Prof. Dr. Bambang Shergi Laksmono, M.Sc dan Ko-Promotor, Dr. Mohammad Kemal Dermawan, M.Si.

Dalam sidang tersebut Napsiyah dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan menjadi Doktor ke-39 Fakultas Ilmu Sosial dan Poliitk Pascasarjana UI.

Napsiyah tercatat menyelesaikan baster of social work (BSW) dan master of social work (MSW) di Mc.Gill University, Montreal, Kanada. Napsiyah juga merupakan sarjana Fakultas Dakwah UIN Jakarta sekaligus santriawati, jebolan Ponpes Daar el-Qolam, Banten.

Dengan latar belakang tersebut Prof. Bambang S. Lakamono menyatakan sangat ideal jika sarjana muslim santri sekaligus social worker terlibat dalam program pemberantasan terorisme. (Rls. Red. Group Kicau/Deni/Kicaunews.com).

Facebook Comments