Beranda Hukrim Pembangunan Industri Mangkrak, Kantor Kemenprin Digruduk LSM Sank Markus

Pembangunan Industri Mangkrak, Kantor Kemenprin Digruduk LSM Sank Markus

BERBAGI

 

JAKARTA, 86NEWS.CO – Puluhan warga yang terhimpun dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Solidaritas Nasional Anti Korupsi dan Anti Makelar Kasus alias Snak Markus, Senin (12/03) menggelar aksi protes di depan kantor Kementerian Perindustrian, di Jakarta Pusat.

Dalam aksinya, LSM Snak Markus menuding adanya indikasi dugaan tindak pidana korupsi, dalam proyek pembangunan Politeknik Industi Morowali Sulawesi Tengah.

Koordinator Aksi, Rizki Ajoe dalam orasinya mengatakan, LSM Snak Markus akan melaporkan kasus dugaan tindak pidana korupsi ini ke pihak yang berwajib, dari mulai KPK, Polri dan juga kejaksaan.

“Kami hanya meminta kejelasan dan pertanggung jawaban dari Kementerian Perindustrian, agar kasus ini menjadi terang benderang,” kata Rizki Ajoe.

Berdasarkan keterangan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Kementerian Perindustrian dalam hal ini terindikasi korupsi, dengan
merugikan negara sebesar 20 Miliar. Namun, meskipun begitu proyek bermasalah tersebut tetap dilanjutkan oleh pemerintah.

Dalam proyek pembangunan tersebut, terdapat beberapa oknum Dirjen PPI yang ikut andil dan bermain bersama oknum bernama Widodo beserta beberapa pejabat dilingkungan Kementerian Perindustrian yang diduga melakukan kongkalikong.

Menurut Rizki, berdasarkan hasil  investigasinya, yang dilakukan dj Morowali Sulawesi Tengah, LSM Snak Markus pembangunan proyek tersebut, saat ini masih mangkrak dan terbengkalai.

Padahal sambung Rizki, seharusnya pembangunan proyek itu sudah harus selesa pada tahun 2017 kemarin. “Banyaknya kejanggalan, kami LSM Solidaritas Nasional Anti Korupsi dan Anti Makelar Kasus (SNAK MARKUS) telah melayangkan surat pada bulan oktober 2017 ke Kemenperin untuk menindak lanjuti temuan kami tersebut,” kata Rizki.

Namun, kata Rizki, sampai saat ini, tidak ada langkah yang diambil oleh kementerian Perindustrian, bahkan mereka terkesan melakukan pembiaran. Diketahui, Proyek pembangunan itu telah berjalan sejak tahun 2015, dan bersifat open tender.

Menurut Rizki, dalam proses pembangunan proyek tersebut, menggunakan nilai kontrak sebesar 14 Miliar, yang saat itu diteken oleh  Dirjen PPI saudara Widodo, dan Ia pun langsung mensunkonkan proyek tersebut kepada perusahaan swasta milik Hasbudi.

Saat pembangunan proyek tersebut telah berjalan sekitar 60 persen, pemilik perusahaan meminta upah kontrak kepada Widodo sesuai dengan kesepakatan awal. Naas, Dirjen PPI, Widodo itu kabur, dan alhasil proyek pembangunan itu pun dihentikan.

Berdasarkan keterangan LSM Snak Markus, pada saat Hasbudi melakukan verifikasi soal pembayaran kepada pihak Kementerian Perindustrian melalui Dirjen PPI, total anggaran tersebut telah dilunasi, dan dan semua pembayarannya telah diserahkan kepada saudara Widodo.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Kepolisian belum melacak keberadaan Widodo yang diduga telah menggelapkan uang pembangunan proyek kawasan Industri di Morowali, Sulawesi Tengah. (Haji Merah).