Beranda Tokoh Kebahagiaan Pesta Demokrasi 2019 Yang Berganti Kesedihan Dalam Demokrasi

Kebahagiaan Pesta Demokrasi 2019 Yang Berganti Kesedihan Dalam Demokrasi

BERBAGI

Opini, 86News.co – Komisi Pemilihan Umum (KPU) mencatat jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia pada penyelenggaraan Pemilu 2019 bertambah menjadi 225 orang. Jumlah korban itu didasarkan pada data yang masuk ke KPU per-Kamis (25/4) hingga pukul 18.00 WIB. Sumber https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190425201638-20-389729/petugas-kpps-meninggal-di-pemilu-serentak-tembus-225-orang).

Sementara 16 personel polisi meninggal akibat bertugas selama Pemilu 2019 , Sember terkait https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190425141141-12-389582/16-personel-meninggal-tugas-pemilu-polri-benahi-aturan-shift, yang merupakan peningkatan jumlah anggota yang meninggal selama pelaksanaan pemilu tahun ini jika dibanding dengan pemilu sebelumnya.

Apakah ini harga Pemilihan Umum 2019 yang diharapkan menjadi pesta demokrasi oleh masyarakat? Sedianya sebuah pesta dari perjalanan pelaksanaan demokrasi harusnya berujung kegembiraan.

Tetapi kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Sebagai bagian dari pendukung demokrasi di negara Indonesia yang saya cintai ini, rasanya sedih membaca kabar ini.

Khawatir bahwa masyarakat akan memiliki persepsi yang rusak tentang keindahan demokrasi berganti trauma dengan pemilihan umum.

Gebyar tim calon pemimpin bangsa dan para caleg yang biasanya datang kepada masyarakat membawa berita gembira untuk dipilih sekaligus buah tangan sederhana untuk menghiasi pesta demokrasi rusak dengan hilangnya nyawa-nyawa ini.

Negara ini memiliki pekerjaan rumah untuk menyusun kembali memori indah tentang demokrasi. Hal ini terkait langsung dengan persepsi sosial yang saat ini terbentuk. Persepsi sendiri terkait dengan pemberian makna terhadap apa yang tertangkap oleh indra (Sarwono, 2014).

Sedangkan bagaimana makna itu berkembang, sangat tergantung pada asosiasi antara obyek persepsi (hilangnya nyawa petugas PPS dan kepolisian) dengan pengalaman yang terjadi ketika obyek tersebut dipersepsikan.

Pada konteks ini negara perlu mengaitkan obyek persepsi tersebut dengan suatu pengalaman baik berupa penghargaan setinggi-tingginya kepada semua nyawa yang melayang saat bertugas di Pemilu 2019 ini.

Baca Juga :  Ketua FKPP Kota Bandung Menolak Tegas Aksi Rusuh dan Anarkis

Apabila pihak POLRI menaikan 1 tingkat pangkat petugasnya yang meninggal maka pihak sipil yang nyawanya melayang pun perlu mendapatkan perhatian lebih. Mereka harus dibahagiakan di tengah kondisi kemalangan ini.

Seperti halnya pandangan Plato (Kasturi, 2016), bahwa the good life (eudomonegnia) atau kebahagiaan bisa dicapai salah satunya dengan cara hidup secara berkomunitas atau bernegara, yang artinya pemerintah sebagai pusat dari komunitas besar banga Indonesia harus berupaya menyejahterakan rakyatnya baik materiil maupun imateriil.

Bentuk usaha menghadapi masalah sekarang adalah pemberian kompensasi materiil yang baik dan adanya penghargaan langsung dari para petinggi negara terhadap kerja dan usaha para mendiang maupun petugas yang sakit tersebut.

Hal ini akan membentuk persepsi positif dan keyakinan bahwa negara memang ada di saat masyarakat berada dalam kesedihan serta menumbuhkan keikhlasan menghadapi kesedihan ini.

Saat ini semua harus berempati dengan masalah ini serta sampai pada tekad tidak lagi pernah akan terulang kondisi yang harus menghabiskan nyawa untuk suatu pesta besar demokrasi di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Penulis Oleh : Tia Rahmania, M.Psi, Psikolog (Dekan Fakultas Falsafah dan Peradaban, Universitas Paramadina)