Pengakuan Mantan Kades Rohaman Blunder, Makin Tercium Aroma Kejanggalan Sengketa Tanah Garapan seluas 533 Hektar

Berita, Uncategorized153 Dilihat
banner 468x60

Kota Tangerang, 86news.co -Sidang kasus dugaan pemalsuan surat tanah garapan di Desa Kohod, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang di Pengadilan Negeri (PN) Kota Tangerang berlanjut pada tahap mendengarkan keterangan terdakwa Rohaman bin Ungi, mantan Kades Kohod dengan dua saksi Hengky Susanto dan Hendra, Rabu (5/06/2024).

Namun terdakwa di depan Majelis Hakim, Rohaman memberikan keterangan tidak sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

banner 336x280

Padahal sebelumnya, di depan Ketua Majelis Hakim Rohaman sudah bersumpah diatas alquran untuk memberikan keterangan sebenar – benarnya.

Muara Harianja,SH,MH Kuasa Hukum dari Hengky dan Hendra dengan tegas mengatakan bahwa keterangan Rohaman di depan majelis hakim yang menyebutkan ide pembuatan surat tanah garapan berasal dari ide Hengky dan Hendra merupakan sebuah pembohongan.

“Bahwa pengakuan seperti itu adalah jawaban yang tidak pada tempatnya karena surat garapan yang dibuat oleh kepala desa kepada warga penggarap itu sudah lebih dulu ada, baru kemudian di operalihkan ke Hendra dan Hengky,” ujarnya.

Maka kata Muara, bagaimana mungkin ide itu timbulnya dari Hendra dan Hengky.
Apalagi Hendra dan Hengky mengatakan kalau kakak dan saudara Rohman lah yang menghubungi Hendra dan Hengky di pabrik trasinya untuk menawarkan adanya tanah garapan warga di Desa Kohod.

“Lalu darimana Hendra dan Hengky mengetahui kalau di desa Kohod ada tanah garapan atau tanah timbul yang akan di operalihkan? karena dua klien saya bukan warga Desa Kohod, maka dari itu tidak beralasan kalau ide itu timbulnya dari Hendra dan Hengky,” ungkap Muara.

Sementara ketika Rohaman ditanya oleh Muara, dijawab bahwa semua isi surat tanah garapan tersebut dibuat oleh Rohaman sendiri.

“Ketika saya menanyakan ke dia, siapa yang membuat isi surat tanah tersebut dijawab oleh Rohaman adalah dia sendiri yang membuatnya, ” jelasnya.

Apalagi berdasarkan BAP yang dilakukan penyidik Polres Metro Tangerang Kota, alasan Rohaman membuat surat tanah garapan kepada Hengky dan Hendra lantaran ia mendapat keuntungan dari membuatkan surat tanah garapan seluas 533 hektar tersebut.

Di dalam BAP surat tanah garapan yang dibuat Rohman tersebut juga tidak dilaporkan ke Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Banten.

Menurut Muara Harianja,SH,MH kuasa hukum terdakwa Hengky dan Hendra, kasus yang menimpa dua kliennya adalah korban karena mereka hanya membeli hak operalih tanah garapan dari Rohaman seluas 533 hektar.

Ke dua kilennya, Hengky dan Hendra sengaja dipaksakan untuk diperkarakan atas laporan Kades Kohod bernama Arsin bin Asip ke Polres Metro Tangerang Kota dengan LP Nomor : LP/B1023/VIII/2023/SPKT/Polres MetroTangerang Kota/Polda Metro Jaya dengan tuduhan surat tanah garapan dan surat keterangan garapan tanah timbul tersebut diduga palsu

Perkara tanah di Desa Kohod ini menjadi menarik perhatian karena rencananya lahan tanah garapan milik Hengky dan Hendra terkena proyek Jalan Tol Pantai Indah Kapuk (PIK) yang dikelola PT Agung Sedayu dan merupakan Proyek Strategis Nasional, ungkap Muara.

Untuk itulah, Muara mengungkapkan banyak kejanggalan dalam perkara tersebut sampai ke dua kliennya Hengky dan Hendra dikriminalisasi. (Wan)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *