Di Tengah Riuh, H. Mirwan MS dan Istri Pilih Menunduk: 21 Tahun Tsunami Jadi Doa Untuk Meneduhkan Hati

Berita, Uncategorized368 Dilihat
banner 468x60

Aceh Selatan, 86News.co — Di saat ruang publik dipenuhi riuh perdebatan, suara keras, dan penilaian yang saling berkejaran, H. Mirwan MS, SE, M.Sos, bersama istri Nafisah Mirwan, memilih jalan yang sunyi: menundukkan kepala, mengenang 21 tahun tragedi Tsunami Aceh, 26 Desember 2004–26 Desember 2025.

Bagi H. Mirwan, tsunami bukan hanya bencana alam, tetapi peristiwa batin yang pernah membuat Aceh diam, saling menggenggam, dan belajar menangis bersama tanpa membedakan siapa memimpin dan siapa dipimpin. Dalam keheningan itulah, menurutnya, Aceh menemukan kembali makna kemanusiaan.

banner 336x280

“Pernah ada masa ketika Aceh benar-benar kehilangan segalanya. Di saat itu, kita tidak sempat saling menyalahkan, “karena duka yang Allah hadirkan saat itu terlalu dalam untuk diucapkan, apalagi diperdebatkan.”. Yang tersisa hanya air mata, doa yang tak putus, dan keikhlasan yang lahir dari hati paling dalam. Saya sangat merindukan suasana itu — saat hati berbicara lebih dulu daripada ego, dan kita saling menguatkan sebagai satu saudara,” ucapnya lirih dalam percakapan WhatsApp bersama Awak Media 86News.co. Jumat (26/12/2025)

Didampingi Nafisah Mirwan, ia mengajak masyarakat Aceh Selatan menjadikan peringatan tsunami sebagai ruang pendinginan hati, agar kegaduhan hari ini tidak menggerus nilai persaudaraan dan kebijaksanaan yang Allah titipkan melalui ujian dan duka yang mendalam.

Menurutnya, sejarah tsunami mengajarkan bahwa kemarahan tidak pernah membangun, dan kegaduhan tidak pernah menyembuhkan. Yang menyelamatkan Aceh kala itu adalah empati, kesabaran, dan kesediaan untuk saling memaafkan.

“Jika hari ini ada perbedaan pandangan, biarlah itu diselesaikan dengan hati yang teduh. Karena rakyat Aceh Selatan terlalu berharga untuk dikorbankan oleh riuh yang seharusnya bisa kita tenangkan bersama,” lanjutnya.

Dalam suasana perenungan tersebut, H. Mirwan menegaskan bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan luka batin rakyat adalah tanggung jawab moral yang harus dijaga dengan kepekaan. Ia menilai, kepemimpinan sejati justru diuji saat memilih diam untuk mendengar dengan hati, dan bersabar dalam setiap ujian.

Peringatan 21 tahun Tsunami Aceh, menurutnya, menjadi waktu untuk saling mendoakan, bukan saling menghakimi—mengingatkan bahwa Aceh pernah hancur, lalu bangkit karena persatuan dan ketulusan.

Selain mengenang para syuhada tsunami, H. Mirwan dan istri juga mengajak masyarakat mendoakan saudara-saudara yang saat ini masih terdampak bencana di berbagai daerah, sebagai pengingat bahwa penderitaan orang lain seharusnya melembutkan hati, bukan mengeraskannya.

“Semoga Aceh Selatan selalu dijauhkan dari bencana, baik yang datang dari alam maupun dari kerasnya hati kita sendiri,” tutupnya.
Di tengah riuh yang mudah menyala, H. Mirwan memilih doa.
Di saat banyak suara meninggi, ia memilih tunduk.

Karena dari tsunami, Aceh pernah belajar: yang paling kuat bukan yang paling keras, melainkan yang paling mampu menjaga hati. (Id)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *