86NEWS.CO – Ada pemandangan yang sekarang makin sering kita lihat, baik di kota maupun di kampung-kampung Sulawesi: sekelompok remaja duduk bersama, tetapi tidak benar-benar saling berbicara. Kepala mereka sama-sama tertunduk ke layar handphone. Jari sibuk menggulir TikTok, mata fokus pada media sosial, tetapi hati mereka pelan-pelan makin jauh dari lingkungan sekitar.
Ironisnya, mereka terlihat dekat secara digital, tetapi asing secara sosial. Inilah salah satu wajah generasi hari ini: generasi yang tumbuh bersama gadget, tetapi perlahan kehilangan kepedulian terhadap sesama manusia. Dulu, anak-anak muda di kampung lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Mereka bermain bersama, membantu orang tua, ikut kerja bakti, atau sekadar duduk bercakap di pos ronda sampai malam. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh alami dalam kehidupan sosial masyarakat.
Sekarang suasananya berubah. Hari ini banyak remaja lebih nyaman berbicara lewat layar dibanding bertemu langsung. Mereka lebih cepat membalas komentar di media sosial daripada menyapa tetangga sendiri. Bahkan di rumah, anak dan orang tua bisa duduk berdekatan tetapi sibuk dengan handphone masing-masing.
Teknologi sebenarnya bukan musuh. Gadget juga bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Masalahnya adalah ketika gadget perlahan mengambil alih kehidupan sosial manusia sampai rasa empati dan kepedulian ikut hilang. Fenomena ini bukan sekadar asumsi.
Berdasarkan data terbaru Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet Indonesia tahun 2026 mencapai sekitar 235,3 juta jiwa atau lebih dari 82 persen populasi nasional. Sebagian besar pengguna berasal dari kelompok usia muda dan aktivitas dominannya adalah media sosial serta hiburan digital.
Artinya, sebagian besar remaja Indonesia hari ini hidup dalam ruang digital hampir sepanjang hari. Yang mengkhawatirkan, kedekatan dengan gadget ternyata tidak selalu membuat hubungan sosial menjadi lebih baik. Justru banyak remaja mulai mengalami penurunan interaksi langsung dengan lingkungan sekitarnya.
Kita bisa lihat sendiri sekarang. Di warung kopi, di sekolah, di rumah ibadah, bahkan saat kumpul keluarga, banyak remaja lebih sibuk memegang handphone daripada berinteraksi dengan orang di sekitarnya.
Mereka cepat tahu gosip artis di TikTok, tetapi tidak tahu tetangganya sedang sakit. Mereka hafal tren viral terbaru, tetapi lupa menyapa orang tua ketika masuk rumah. Di banyak tempat, rasa peduli perlahan digantikan budaya cuek.
Belum lama ini media sosial juga ramai membahas berbagai kasus remaja yang justru sibuk merekam ketika terjadi kecelakaan atau perkelahian, bukannya membantu korban. Ada yang menjadikan musibah sebagai konten. Ada yang tertawa sambil merekam orang jatuh. Yang lebih menyedihkan, video seperti itu sering mendapat ribuan penonton dan komentar lucu.
Kita sedang menghadapi generasi yang perlahan kehilangan sensitivitas sosial. Berdasarkan kutipan di berbagai forum internet Indonesia dan diskusi warganet di media sosial, keresahan masyarakat soal remaja yang terlalu bergantung pada gadget makin sering muncul.
Banyak warganet mengeluhkan anak muda yang dianggap makin individualis, sulit berkomunikasi langsung, kurang empati, hingga lebih peduli pada dunia digital dibanding lingkungan sosial nyata. Fenomena ini sebenarnya sangat berbahaya. Dalam budaya masyarakat timur, manusia tidak pernah diajarkan hidup sendiri. Orang Bugis mengenal sipakatau, yaitu saling memanusiakan.
Orang Makassar mengenal sipakalebbi, yaitu saling menghargai. Nilai-nilai itu lahir karena masyarakat dulu hidup dalam hubungan sosial yang kuat. Makanya dulu kalau ada tetangga berduka, orang kampung langsung datang membantu tanpa dipanggil. Kalau ada kerja bakti, anak muda paling depan turun tangan. Ada rasa malu kalau dianggap tidak peduli pada lingkungan. Sekarang suasana begitu mulai jarang terlihat.
Hari ini banyak remaja lebih peduli menjaga streak media sosial daripada menjaga hubungan dengan keluarga sendiri. Mereka lebih takut kehilangan handphone dibanding kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Yang lebih ironis, gadget sekarang bukan hanya mengubah cara remaja berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara mereka memahami kehidupan. Media sosial membuat banyak remaja hidup dalam budaya validasi.
Nilai diri diukur dari jumlah likes, followers, viewers, dan komentar. Akibatnya banyak anak muda tumbuh dengan kecemasan sosial tinggi. Mereka ingin terlihat sempurna di internet meskipun sebenarnya merasa kosong di dunia nyata. Bahkan tidak sedikit remaja yang mengalami gangguan mental akibat tekanan media sosial.
Berdasarkan laporan UNICEF dan berbagai penelitian internasional, penggunaan gadget dan media sosial berlebihan pada remaja berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, gangguan tidur, depresi, hingga menurunnya kemampuan interaksi sosial.
Masalahnya, banyak orang tua belum benar-benar sadar bahwa gadget bukan sekadar alat hiburan biasa. Handphone sekarang sudah menjadi ruang yang membentuk pola pikir, perilaku, bahkan karakter anak-anak mereka. Sayangnya, banyak keluarga justru menjadikan gadget sebagai “pengasuh kedua”. Anak menangis diberi handphone. Anak rewel diberi TikTok. Anak diam dianggap baik, padahal sebenarnya sedang tenggelam terlalu jauh dalam dunia digital.
Akibatnya, banyak remaja sekarang tumbuh dengan kemampuan komunikasi sosial yang lemah. Mereka aktif di media sosial, tetapi canggung berbicara langsung. Pintar membuat konten, tetapi sulit membangun empati. Kita bisa lihat sendiri di sekolah-sekolah. Banyak siswa lebih nyaman chatting daripada berbicara tatap muka. Banyak yang mudah tersinggung, sulit mengendalikan emosi, bahkan tidak tahu cara menyampaikan pendapat dengan baik.
Gadget perlahan membentuk generasi yang cepat bereaksi tetapi lambat memahami. Yang paling mengkhawatirkan, budaya media sosial juga mendorong munculnya sikap individualistik. Orang sibuk membangun citra diri masing-masing.
Semua ingin diperhatikan, tetapi sedikit yang mau peduli pada orang lain. Padahal bangsa ini sejak dulu dibangun di atas semangat gotong royong dan kebersamaan. Di Sulawesi misalnya, budaya tolong-menolong menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Anak muda dulu dianggap hebat kalau aktif membantu masyarakat, bukan kalau viral di internet. Sekarang ukuran itu mulai berubah. Banyak remaja rela begadang demi konten TikTok, tetapi malas ikut kerja bakti. Cepat mengomentari isu nasional di media sosial, tetapi lambat membantu tetangga sendiri. Fenomena ini sebenarnya menunjukkan bahwa kita sedang mengalami krisis kepedulian sosial.
Teknologi memang membuat manusia lebih terkoneksi secara digital, tetapi belum tentu lebih dekat secara emosional. Bahkan dalam banyak kasus, gadget justru membuat hubungan sosial menjadi makin dingin. Orang tua kehilangan komunikasi dengan anak. Remaja kehilangan kedekatan dengan lingkungan.
Masyarakat kehilangan rasa saling peduli. Kalau keadaan ini terus dibiarkan, kita akan melahirkan generasi yang pintar secara teknologi tetapi miskin empati sosial. Padahal kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas hubungan antarmanusianya.
Karena itu, persoalan gadget dan remaja tidak bisa dianggap masalah sepele. Ini bukan hanya soal kecanduan handphone, tetapi soal masa depan karakter generasi muda kita. Orang tua harus mulai berani membatasi penggunaan gadget pada anak.
Rumah harus kembali menjadi ruang percakapan, bukan sekadar tempat berkumpul sambil sibuk dengan layar masing-masing. Sekolah juga harus lebih serius membangun pendidikan karakter dan kepedulian sosial.
Anak-anak perlu diajarkan kembali pentingnya empati, gotong royong, dan interaksi sosial nyata. Dan yang paling penting, remaja sendiri harus sadar bahwa dunia digital bukan seluruh kehidupan. Likes dan followers tidak akan pernah bisa menggantikan hubungan manusia yang nyata.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak diingat karena seberapa viral dirinya di media sosial. Manusia dikenang karena seberapa besar kepeduliannya terhadap sesama. Kalau generasi muda kehilangan rasa peduli, maka bangsa ini mungkin akan maju secara teknologi, tetapi rapuh secara kemanusiaan.
Oleh : Muh Herisman, Dosen Pendidikam Kewarganegaraan. Universitas Negeri Makassar UNM











