Habis Kita, Aceh Selatan Gelap – Wewe dan Tomingse : Krisis Listrik Berlarut, Genset Menguasai, Warga Kian Tertekan

Berita, Uncategorized800 Dilihat
banner 468x60

Aceh Selatan, 86News.co – Pemadaman listrik berkepanjangan yang melanda, sudah mendekati sepekan. Bukan hanya mematikan aktivitas, kondisi ini telah mengubah ritme hidup masyarakat menjadi penuh kegelisahan. Hingga Minggu (30/11/2025), warga hanya bisa mengandalkan genset seadanya, sementara pihak PLN tak kunjung memberikan kepastian kapan listrik akan kembali menyala.

Dengungan genset kini menjadi “soundtrack wajib” kota. Bunyinya keras, panas, dan memecah kesunyian rumah-rumah gelap. Warga bahkan harus berteriak agar dapat mendengar satu sama lain karena suara mesin menguasai suasana.

banner 336x280

Diskusi di warung-warung berubah menjadi unjuk kekesalan, sindiran, dan komentar pedas terhadap kondisi yang mereka anggap semakin tidak masuk akal.

Di salah satu warung di ibu Kota, Kabupaten Aceh Selatan, Tapaktuan. pemandangan yang tak biasa terlihat: puluhan charger HP menancap berebut satu sumber arus dari genset kecil.

Kabel berseliweran seperti jaring laba-laba, warga mondar-mandir mencari colokan kosong, sementara pemilik warung hanya bisa pasrah melihat gensetnya bekerja nyaris di luar batas.

Naidy Berawe, atau Wewe, salah satu warga yang ikut “antri daya”, meluapkan kekesalannya.

“Kalau begini habis kita! Habis punya kita! Minyak BBM jadi rebutan, colokan genset pun jadi medan perang. Bukan lagi soal HP—ini soal kita merasa Hidup di zaman Dinosaurus,” ucapnya Kesal.

Warga lain, Tomingse, menghadapi masalah lebih serius: kekurangan air untuk mandi. Ketiadaan aliran listrik membuat pompa air mati total.

“Air mandi pun susah. Harus pakai alat penyedot, itu pun kalau bisa. Bak mandi kosong, mau cuci pun susah. Ini lampu mati, ba caritonyoe ko…,” ujarnya sambil tertawa hambar menahan kesal.

Kondisi semakin memprihatinkan karena pemadaman ini bukan hanya berlangsung hitungan jam, tetapi hampir sepekan. Aktivitas ekonomi praktis lumpuh: penjual es tak bisa menjual, pedagang makanan merugi, warung kopi kehilangan pelanggan, dan usaha kecil menjerit paling keras.

Tak hanya listrik yang padam, jaringan HP Pun di beberapa kecamatan Aceh Selatan juga lemah bahkan nyaris tak berfungsi. Kondisi ini membuat warga semakin kesulitan berkomunikasi dan mencari informasi di tengah pemadaman berkepanjangan. Banyak warga menilai situasi ini sudah melewati batas wajar.

Di tengah keluhan yang semakin menguat, warga mencoba saling menopang. Konektor dipinjamkan, giliran diberikan, dan warung tetap membuka akses colokan meski genset mereka bekerja bagaikan kuda menarik beban berat. Solidaritas warga menjadi satu-satunya hal yang menyala saat ini—bukan listrik.

Namun, satu pertanyaan terus bergema:
Di mana PLN?
Kapan listrik kembali menyala?
Mengapa tidak ada kejelasan?

Hingga berita ini diturunkan, Yang pasti, masyarakat semakin jenuh menunggu. Mereka berharap pemadaman ini tidak dibiarkan berlarut-larut tanpa penjelasan yang jelas dan tindakan nyata.

Untuk sekarang, warga hanya bisa bertahan—di antara raungan genset, antrian charger yang makin panjang, udara panas tanpa kipas, serta malam-malam gelap yang semakin menguji kesabaran. (Id)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *