PURWOREJO, 86News.co – Tepuk tangan membahana di Gedung Kesenian WR Soepratman, Sabtu (25/04/2026). Penyebabnya: tiga bocah SD dari pinggiran Bener, Purworejo, yang baru saja menuntaskan tarian 5 menit tanpa satu pun gerakan meleset.
Mereka adalah Putri Sakhi Hamumpuni, Aqila Putri Oktavia, dan Nadin Sava Arifda. Masih kelas 4 dan 5 SD Negeri Jolodoro, tapi aura panggungnya udah kayak penari profesional.
Di Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional tingkat Kabupaten Purworejo 2026, ketiganya jadi sorotan.
Bukan Sekadar Joget: Ada Cerita, Ada Pesan
Dapat nomor undi 11, Putri, Aqila, dan Nadin membawakan tari bertema kehidupan anak-anak pedesaan. Nggak ada properti mewah. Hanya gerak, ekspresi, dan musik yang bercerita tentang bocah-bocah desa yang main petak umpet, bantu orang tua ke sawah, lalu sore-sore kumpul di halaman.
“Tarian ini simpel, tapi jujur. Penonton langsung kebawa suasana kampung,” kata salah satu juri yang enggan disebut namanya.
Nilai budaya dan pesan soal kebersamaan sejak dini jadi kekuatan utama mereka.
Yang bikin kagum: kekompakannya. Tiga anak, tiga karakter, tapi tarikannya sinkron. Ekspresinya hidup. Itu hasil latihan yang nggak main-main.
Latihan Tiap Hari, Pelatihnya Wali Murid Sendiri
Kepala SD Negeri Jolodoro, Sundoyo, cerita kalau persiapan dimulai begitu mereka juara 1 tingkat Kecamatan Bener.
“Sejak Senin langsung gas latihan tiap hari. Bahkan H-1 lomba masih gladi bersih sampai sore,” ujarnya.
Uniknya, pelatih tari mereka adalah salah satu wali murid. Nggak dibayar, murni gotong royong.
“Ini bukti kalau sekolah, orang tua, dan siswa kompak, hasilnya luar biasa,” tambah Sundoyo.
Hasilnya kelihatan. Jika tahun lalu SD Jolodoro cuma mentok juara 2 kecamatan, tahun ini mereka naik kelas: juara 1 kecamatan dan sekarang tarung di kabupaten.
Ditemui usai tampil, Putri, Aqila, dan Nadin malah santai. “Latihannya intens seminggu, tapi kami emang udah sering nari. Jadi di panggung nggak terlalu grogi,” kata Putri sambil senyum.
Mereka sempat nonton peserta lain. “Bagus-bagus, tapi kami yakin sama tarian kami sendiri,” timpal Aqila.
Targetnya jelas: juara 1 kabupaten, lalu lanjut ke provinsi. “Kalau lolos, latihannya bakal lebih gila lagi,” canda Nadin.
FLS3N 2026: Bukan Sekadar Lomba, Tapi Ruang Tumbuh
FLS3N Purworejo 2026 resmi dibuka hari itu oleh Kepala Dindikbud Yudhie Agung Prihatno lewat pemukulan gong. Acara makin meriah dengan Tari Cingpoling dan pertunjukan musik. Tahun ini temanya “Menumbuhkan Karakter Bangsa melalui Kreativitas dan Apresiasi Seni Budaya”.
Yudhie menegaskan, FLS3N adalah kompetisi berjenjang dari kecamatan sampai nasional.
“Ini ruang ekspresi anak. Menang kalah urusan nanti. Yang penting mereka berani tampil dan belajar,” pesannya.
Total 341 siswa ikut: 154 dari SD, 187 dari SMP, mewakili 16 kecamatan. Untuk SD, lomba digelar sehari pada 25 April.
Cabangnya lengkap: tari, gambar bercerita, menyanyi solo, kriya, pantomim, menulis cerita, mendongeng. Jenjang SMP giliran 5-6 Mei dengan 8 cabang lomba.
Mimpi Berikutnya: Dari Purworejo ke Jawa Tengah
Sundoyo belum puas. Meski baru ikut cabang tari tahun ini, dia komitmen kembangkan bidang seni lain ke depan.
“Tari ini bakal terus kami lestarikan. Di sekolah, di masyarakat. Harapannya anak-anak nggak cuma pinter akademik, tapi juga cinta budaya.” ujarnya.
Sementara Putri, Aqila, dan Nadin udah nggak sabar nunggu pengumuman. Kalau lolos, mereka bakal jadi wakil Purworejo di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Dan kalau lihat semangatnya hari ini, mimpi itu kayaknya nggak mustahil mereka bisa juara.(Ananto)











