Puskesmas Meukek Disorot: Menanti Rujukan, Sultan Balita 2,6 Tahun Anak Satu-Satunya Pergi Selamanya

Berita, Uncategorized4276 Dilihat
banner 468x60

Aceh Selatan, 86News.co — Duka mendalam menyelimuti keluarga Bairuzal (35), warga Kecamatan Meukek. Putra pertamanya, Muhammad Sultan Alfatih, balita berusia 2,6 tahun, meninggal dunia usai menjalani perawatan di Puskesmas Meukek, yang oleh pihak keluarga dinilai penuh kejanggalan dan dugaan kelalaian pelayanan medis.

Peristiwa memilukan ini bermula ketika Sultan Alfatih mengalami demam tinggi selama tiga hari. Pada Selasa, 30 Desember 2025 sekitar pukul 10.00 WIB, balita tersebut dibawa ke Puskesmas Meukek untuk mendapatkan penanganan medis.

banner 336x280

“Anak sudah lemas, panas tinggi. Tapi setelah diperiksa, kami hanya diberi resep dan disuruh pulang,” ungkap Ayah anak (Bairuzal), dengan suara bergetar. kepada wartawan Selasa, 06 Januari 2026.

Bairuzal menuturkan bahwa kondisi Sultan Alfatih tidak membaik. seusai waktu magrib, hari itu juga keluarga kembali membawa ke puskesmas. Barulah saat itu anak dirawat inap. Ia dirawat selama tiga hari, namun kondisi anak justru semakin memburuk.

Balita ini dilaporkan mengalami penurunan kondisi secara bertahap. Ia sulit makan, kerap muntah dan diare, sementara tubuhnya terlihat semakin lemah. Melihat kondisi itu, kami keluarga berulang kali memohon agar Sultan Alfatih dapat dirujuk ke RSUD Yulidin Away (RSUDYA) Tapaktuan untuk mendapatkan penanganan lanjutan.

“Kami mohon dengan sangat agar anak kami dirujuk. Bahkan beberapa perawat menyarankan rujukan karena merasa tidak sanggup menangani. Tapi permintaan kami seperti diabaikan,” ungkap Bairuzal sambil menahan tangis.

Ironisnya, menurut keluarga, infus tidak berhasil dipasang sejak malam hari hingga keesokan paginya. Hingga Jumat pagi, 02 Januari 2026, barulah ada kontrol dokter.

Pada saat itu, keluarga menyampaikan keluhan serius, dari telinga kiri keluar cairan nanah bercampur darah. Kami sampaikan langsung ke dokter, tapi telinga anak saya tidak diperiksa, bahkan tidak disentuh. Dokter hanya menyuruh melap cairan yang keluar dari telinga anak dengan kain basah karena panas,” ujar Bairuzal dengan nada kecewa.

Merasa tak ada lagi harapan, keluarga akhirnya membawa Sultan Alfatih pulang ke rumah. Namun menjelang sore, karena kondisi anak semakin kritis, keluarga memutuskan membawa langsung ke RSUDYA. Namun takdir berkata lain, ditengah perjalanan, anak kami menghembuskan napas terakhirnya.

Dalam kondisi syok dan panik, keluarga berbalik arah dan kembali ke Puskesmas Meukek untuk memastikan kondisi anak. Di sana, dokter Cut Herfiza menyatakan bahwa Muhammad Sultan Alfatih telah meninggal dunia.

Tangis pecah di ruang Puskesmas. anak pertama dan satu-satunya semata wayang pasangan (Bairuzal- Fajarul Hikmah), akhirnya dibawa pulang ke rumah duka.

“Saya selaku ayah hancur.Saya meronta, saya bertanya, kenapa saat minta rujukan tidak diberikan? Anak sekarat, tapi seperti tidak dianggap,” ucapnya dengan air mata berlinang.

Bairuzal juga mengungkapkan bahwa seorang perawat sempat meminta maaf, mengakui keterbatasan dalam menangani kondisi anak.

Atas kejadian ini, pihak keluarga kami menuntut pertanggung jawaban moral dan profesional dari tenaga medis yang menangani. Meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan melalui Dinas Kesehatan untuk mengevaluasi secara menyeluruh Puskesmas Meukek, termasuk dokter yang bertugas saat itu.

“Kami tidak ingin kejadian ini menimpa anak lain. Jangan sampai ada orang tua lain yang merasakan kehilangan seperti kami,” tegas Bairuzal.

Sampai berita ini dipublikasikan, konfirmasi dari pihak Puskesmas Meukek dan Dinas Kesehatan Aceh Selatan masih belum diperoleh. Redaksi tetap membuka ruang bagi pihak terkait untuk memberikan klarifikasi atau hak jawab. (Id)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *