CILACAP, 86News.co – Potret perjuangan dunia pendidikan kembali terlihat di perbatasan Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut dan Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten.
Akibat kondisi jembatan penghubung yang rusak parah, puluhan siswa sekolah dasar terpaksa harus ekstra waspada saat berangkat menuntut ilmu.
Melihat ancaman keselamatan yang nyata, Babinsa Desa Panikel, Serda Ronal, mengambil inisiatif turun langsung ke lokasi untuk membantu dan mengawasi anak-anak sekolah yang melintas.
Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap keselamatan warga, khususnya generasi muda di wilayah binaannya.
Detail Situasi di Lapangan
Akses Vital yang Lumpuh: Jembatan di Dusun Panikel RT 02/ RW 05 ini merupakan akses utama yang menghubungkan Kecamatan Kampung Laut dengan Kecamatan Kawunganten.
Siswa Terdampak: Sebanyak 18 anak (12 anak dari Dusun Panikel dan 6 anak dari Desa Bojong) setiap hari menggantungkan nasib pada jembatan ini untuk menuju SD Satu Atap Panikel.
Perjuangan Berat: Para siswa harus menempuh jarak 4 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Perjalanan ini kian berat karena selain jembatan yang nyaris putus, akses jalan penghubung juga dalam kondisi rusak berat.
Sinergi TNI dan Masyarakat
Serda Ronal bersama masyarakat setempat bahu-membahu bersiaga di ujung jembatan.
Mereka membantu menggendong tas atau menuntun langkah anak-anak agar tidak terperosok ke dalam struktur jembatan yang sudah tidak stabil.
“Keselamatan anak-anak adalah prioritas kami. Dengan kondisi jembatan yang rusak parah seperti ini, risiko kecelakaan sangat tinggi. Kami bersama warga berupaya memastikan mereka sampai ke sekolah dengan aman meskipun jalurnya sangat memprihatinkan,” ujar Serda Ronal di sela-sela kegiatannya.
Urgensi Perbaikan
Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam bagi orang tua siswa. Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki jembatan dan akses jalan tersebut.
Perbaikan infrastruktur ini bukan sekadar urusan transportasi, melainkan urat nadi bagi masa depan pendidikan anak-anak di wilayah ujung Panikel dan Bojong. (Tugiman)











