Ulat di Piring Siswa MBG Purworejo: Bukti Lalainya Pengawasan Program Miliaran Rupiah

Berita, Uncategorized475 Dilihat
banner 468x60

Purworejo, 86News.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah sebagai solusi gizi anak sekolah kembali ternoda. Senin, 27 April 2026, siswa SMP Negeri 2 Purworejo justru menemukan hewan menyerupai ulat dalam menu tumis cesin.

Insiden di Purworejo ini membongkar rapuhnya standar kebersihan dan pengawasan dapur penyedia MBG yang dibiayai uang rakyat.

banner 336x280

Temuan menjijikkan itu terjadi saat makan siang. Bukan kerikil atau rambut, melainkan hewan yang diduga ulat, ditemukan mati di sayur yang sudah tercampur wortel. 640 siswa SMP Negeri 2 Purworejo menjadi taruhannya.

Jika satu piring lolos, berapa banyak piring lain yang luput dari pengawasan?

Kepala SPPG Meranti, Haryo Bagas Wicaksono, mengakui kejadian tersebut. Dapur yang baru berdiri 25 Agustus 2025 dan baru dua pekan melayani 2.500-2.700 siswa itu berdalih sudah melakukan checking.

“Iya benar, menu langsung kita ganti baru. Ulat itu berasal dari sayur, tepatnya dari menu tumis cesin,” ujar Haryo, Selasa 28/04/2026.

Dalih “dari sayur” tidak bisa menutupi fakta: sistem sortir dan higienitas dapur penyedia gagal total. Haryo berjanji berbenah, tapi publik berhak bertanya, kenapa SOP baru dievaluasi setelah kasus mencuat? Di mana peran Badan Gizi Nasional dan dinas terkait yang seharusnya mengaudit ketat sebelum dapur baru melayani ribuan anak?

Pihak sekolah, melalui Humas Komsotun Mardiyah, menyebut makanan sudah dicek sebelum disajikan. Nyatanya, hewan itu tetap lolos ke piring siswa.

“Kami tidak memastikan itu lintah. Dari warna memang mirip, tapi belum bisa dipastikan. Yang jelas ditemukan dalam sayur cesin,” katanya.

Pernyataan ini justru menegaskan satu hal: pengecekan yang ada hanya formalitas. Dalam program distribusi massal, “sudah dicek” tanpa hasil nol temuan adalah omong kosong.

Kritik paling pedas datang dari Ketua DPW LSM Tamperak Purworejo, Sumakmun. Ia menyebut insiden ini tidak bisa dianggap sepele.

“Bagaimana bisa di atas piring ditemukan cacing penghisap darah? Itu sangat menjijikkan dan tidak pantas. Program MBG ini bertujuan untuk pemenuhan gizi anak, bukan malah berpotensi menjadi sumber penyakit,” tegasnya di kantornya, Jalan Dewisartika, Sindurjan.

MBG adalah program prioritas pemerintah dengan anggaran triliunan. Tapi kasus Purworejo membuktikan, besarnya anggaran tak sejalan dengan ketatnya pengawasan.

Pemerintah tidak bisa terus-menerus berlindung di balik kata “evaluasi” tiap kali ada kasus. Jika dapur baru berumur dua minggu saja sudah kebobolan, bagaimana nasib puluhan ribu dapur MBG lain di seluruh Indonesia?

Gizi anak bukan bahan uji coba. Satu ulat di piring adalah satu kegagalan negara menjamin hak dasar siswa: makanan yang aman. Sebelum ada korban keracunan massal, Badan Gizi Nasional, Kemendikbud, dan Pemkab Purworejo harus membuka audit terbuka.

Transparan ke publik, bukan rapat internal. Jika tidak, MBG hanya akan jadi proyek pencitraan yang mengorbankan kesehatan generasi penerus.(Ananto)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *