Gabalil Hai Sua 2026: Rindu dan Identitas Orang Sula yang Dijalani

Berita, Uncategorized124 Dilihat
banner 468x60

SANANA, 86News.co – Ada kehangatan tersendiri saat ratusan orang berjalan bersama, bukan karena paksaan, melainkan karena rasa rindu. Rindu pada tradisi leluhur, rindu pada tanah kelahiran, dan rindu bertemu sesama warga yang mungkin lama tak bersua. Itulah jiwa besar di balik kegiatan Gabalil Hai Sua (GHS) 2026 yang resmi bergulir mulai 2 Mei – 6 Mei di Kepulauan Sula, Maluku Utara.

Sebanyak 310 peserta dari berbagai pelosok desa berkumpul, memulai perjalanan bersejarah dari titik ikonik Benteng De Verwachting. Bagi mereka, GHS bukan sekadar ajang uji ketahanan fisik, melainkan sebuah pengakuan jati diri: “Kami adalah orang Sula.”

banner 336x280

Perjalanan epik ini berlangsung selama lima hari, membelah jantung wilayah dan melewati pos-pos penting yang menjadi saksi bisu peradaban. Pertama, 2 Mei: Dimulai dari Benteng De Verwachting menuju Desa Nahi. Selanjutnya pada 3 Mei: Melanjutkan langkah ke Desa Fuata untuk pemulihan energi. Lalu 4 Mei: Menembus pedalaman menuju Desa Fatkauyon. Dilanjutkan 5 Mei: Menuju Desa Fatiba dan beristirahat di Sula Besi Tengah. Dan yang terakhir 6 Mei: Kembali ke garis finish di Benteng De Verwachting.

Di tengah derasnya peluh dan debu jalanan, momen kemanusiaan justru menjadi sorotan utama. Regu Purnama dari Desa Kabau Pantai membuktikan bahwa mencapai garis finish bukan segalanya. Mereka menyempatkan diri singgah dan bersilaturahmi dengan Ibu Sarnawiya Fokaaya, seorang lansia yang hidup menyendiri sejak ditinggal suaminya.

Kunjungan singkat itu menjadi bukti nyata bahwa di antara ambisi, masih ada hati yang harus dijaga dan kepedulian yang harus ditebarkan.

“Kami bersyukur dengan adanya GHS 2026 ini. Kami dapat menyambung tali silaturahmi antar sesama warga. Semoga kegiatan ini selalu dilestarikan sebagai identitas Kesulaan,” ujar Abd. Mutalib Fataruba, salah satu peserta.

Ucapan itu merangkum semangat yang hidup dari tahun ke tahun. GHS adalah cara orang Sula mengenali diri sendiri, mengingat asal-usul, dan meneguhkan tanggung jawab sebagai satu komunitas besar.

Saat berita ini diturunkan, ratusan peserta masih terus mengayunkan langkah menuju titik akhir. Gabalil Hai Sua sekali lagi membuktikan bahwa identitas bukan hanya sekadar catatan sejarah, melainkan sesuatu yang harus dijalani, ditapaki, dan dirasakan bersama dalam setiap derap kaki.

(Red/Vio Sari)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *