TORAJA UTARA, 86News.co – Kasus pelemparan batu terhadap rumah warga dan rumah ibadah di wilayah Lappo, Kelurahan Lebang, Kecamatan Wara Barat, Kota Palopo, hingga kini belum juga menemukan titik terang. Meski telah beberapa kali dilaporkan kepada aparat kepolisian, aksi tersebut disebut masih terus terjadi dan membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karena merasa belum mendapatkan kepastian atas penanganan kasus tersebut, sejumlah warga akhirnya mengadu kepada Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Irjen Pol (Purn) Drs. Frederik Kalalembang yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Polairud Polda Sulsel sebelum pindah ke Jawa Timur. Warga berharap persoalan yang sudah berulang kali terjadi itu mendapat perhatian lebih serius sehingga pelaku dapat segera diungkap dan ditangkap.
Dikutip dari Lintas Terkini, salah seorang warga setempat sebut saja Pendrik, bahwa tokoh masyarakat sudah berulang kali melapor ke polisi, namun hingga kini belum ada tindakan tegas. Bahkan, belum satu pun pelaku yang berhasil diamankan.
“Kami heran karena laporan sudah beberapa kali disampaikan, tetapi kejadian masih terus berulang. Warga hanya ingin hidup tenang dan merasa aman di lingkungan sendiri,” ujar Pendrik.
Menurut Pendrik, aksi pelemparan tidak hanya menyasar rumah warga, tetapi juga Gereja Toraja Jemaat Lappo yang berada di Kelurahan Lebang. Atap dan kaca rumah ibadah tersebut dilaporkan mengalami kerusakan akibat peristiwa itu. Kejadian tersebut telah berlangsung berulang kali dalam beberapa waktu terakhir dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Bahkan, barang bukti berupa bom molotov juga ditemukan di lokasi beberapa waktu lalu.
Warga mengaku heran karena meskipun laporan telah disampaikan kepada aparat keamanan, aksi pelemparan masih saja terus terjadi. Bahkan dalam beberapa kejadian terakhir, pelaku diduga semakin berani dengan beraksi pada malam hari hingga menjelang subuh.
Sementara itu, Pendeta Sardelyn yang dikonfirmasi mengaku aksi pelemparan masih terus terjadi hingga Senin, 1 Juni 2026 sore. Bahkan, pelemparan juga disertai dengan penggunaan kembang api yang terlihat beberapa kali.
“Kami butuh ketenangan. Jangan sampai hal ini terus terjadi dan membuat kami ketakutan karena dampaknya merusak rumah ibadah,” terangnya.Tanggapan Polres Palopo
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Palopo, IPTU Ridwan Parintak, mengatakan kejadian di Lappo, Kelurahan Lebang, murni merupakan perkelahian antar kelompok pemuda yang menyebabkan beberapa rumah terkena lemparan, termasuk rumah ibadah (gereja).
Ia menampik bahwa kejadian tersebut merupakan teror terhadap rumah ibadah. Menurutnya, peristiwa itu adalah aksi saling lempar antar kelompok pemuda sehingga rumah ibadah maupun rumah warga ikut terdampak.
“Kami dari Unit Reskrim Polres Palopo masih melakukan penyelidikan terkait para pelaku pengrusakan,” kata Ridwan Parintak.
Ia juga berpesan kepada setiap pihak yang merasa dirugikan maupun yang mengetahui para pelaku pengrusakan agar ikut mengambil peran dalam proses penyelidikan yang saat ini sedang dilakukan.
Warga Minta Bantuan ke Irjen Pol (P) Frederik Kalalembang
Menindaklanjuti keluhan masyarakat, Irjen Pol (P) Frederik Kalalembang langsung melakukan komunikasi dengan sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh gereja setempat. Ia menilai persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena dapat mengganggu rasa aman warga dan memicu spekulasi yang tidak diinginkan, bahkan berpotensi memicu isu SARA jika tidak segera ditangani.
“Saya meminta masyarakat untuk tetap tenang dan jangan terpancing hal-hal yang dapat memperkeruh keadaan. Masyarakat merasa persoalan ini belum tuntas, sehingga akhirnya menyampaikan langsung kepada saya. Yang mereka inginkan sederhana, yaitu rasa aman dan kepastian hukum. Pelaku harus segera ditemukan sehingga masyarakat tidak terus-menerus hidup dalam ketakutan,” ujar Frederik kepada redaksi media torajatimes, Selasa, (2/6/2026).
Sebagai bentuk tindak lanjut, Frederik Kalalembang menyarankan tokoh masyarakat untuk menggelar rapat bersama guna membahas persoalan tersebut. Saran itu kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan yang dihadiri Pengurus Klasis Gereja Kota Palopo pada Senin, 1 Juni 2026. Pertemuan tersebut juga dihadiri para pengurus gereja dan tokoh masyarakat guna mencari langkah terbaik agar situasi tetap kondusif.
Dalam pertemuan itu, seluruh pihak sepakat untuk mengadukan persoalan tersebut kepada Kapolres Palopo dan tetap mengedepankan jalur hukum serta menjaga suasana tetap tenang. Pengurus gereja juga berkomitmen terus berkoordinasi dengan aparat keamanan setempat agar kasus tersebut dapat segera dituntaskan.
Frederik Kalalembang menambahkan bahwa kasus kriminal tersebut tidak boleh berkembang menjadi isu yang dapat mengganggu kerukunan masyarakat. Ia meminta masyarakat tetap tenang dan aparat keamanan bekerja cepat untuk mengungkap serta menangkap pelaku sehingga tidak muncul berbagai spekulasi yang dapat memperkeruh keadaan.
“Saya meminta kasus ini ditangani secara serius. Jangan sampai karena penanganannya lambat, muncul pihak-pihak yang mencoba menunggangi atau memanfaatkan situasi. Palopo adalah kota yang selama ini hidup rukun dalam keberagaman. Jangan biarkan ulah segelintir orang merusak persaudaraan yang sudah terbangun dengan baik selama ini,” tegas Jendral dua bintang ini.
Frederik menambahkan, langkah cepat aparat sangat diperlukan untuk mengembalikan rasa aman masyarakat. Ia berharap pengungkapan kasus dapat segera dilakukan agar warga tidak lagi dihantui ketakutan dan seluruh aktivitas masyarakat maupun kegiatan ibadah dapat berlangsung dengan aman dan damai.(Redaksi/Eno/David)
Sumber : Torajatimes.com
















