Universitas Muslim Indonesia UMI Makassar Melaksanakan Konferensi Internasional Membahas Pembangunan Berkelanjutan di Tingkat Asean dan Global

Berita, Uncategorized203 Dilihat
banner 468x60

MAKASSAR, 86News.co – Program Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar International Conference on Sustainable Development and Its Impact in ASEAN and Global Context.

Ini sebagai forum akademik untuk membahas berbagai isu pembangunan berkelanjutan dari perspektif global, regional, dan nilai-nilai keislaman.

banner 336x280

Konferensi internasional tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Jepang, Korea Selatan, India, Belanda, dan Spanyol.

Kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan, hasil riset, serta pengalaman dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan. Digelar di Auditorium Aljibra Kampus UMI, Senin, 08 Juni.

Direktur Pascasarjana UMI, Prof. Dr. H. La Ode Husen, mengatakan pembangunan berkelanjutan dalam perspektif Islam bukan sekadar konsep modern, melainkan bagian dari amanah manusia sebagai khalifatullah fil ardh yang bertanggung jawab menjaga dan memakmurkan bumi.

“Kami menilai dalam Islam bahwa sasaran pembangunan berkelanjutan bukan hanya sekadar konsep modern, melainkan perwujudan tugas manusia sebagai khalifatullah fil ardh, pemimpin yang bertanggung jawab menjaga, merawat, dan memakmurkan bumi, bukan merusaknya,” ujar Prof La Ode Husen dalam sambutannya.

Menurutnya, konferensi internasional tersebut diinisiasi sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin ilmu untuk mencari solusi atas berbagai persoalan global yang semakin kompleks. Ia menekankan bahwa keberlanjutan tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja.

“Kami percaya jalan menuju keberlanjutan tidak bisa ditempuh sendirian. Kita membutuhkan sinergi antara sains, teknologi, kebijakan publik, hingga pendekatan nilai-nilai agama dan moral,” katanya.

Prof La Ode Husen juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, sponsor, dan para pembicara yang telah berkontribusi sehingga konferensi internasional tersebut dapat terselenggara dengan baik dan menghadirkan perspektif yang beragam.

Sementara itu, Rektor UMI, Prof. Hambali Thalib, menegaskan bahwa kolaborasi budaya dan riset menjadi jembatan penting yang mampu menyatukan berbagai bangsa dalam menghadapi tantangan global.

Menurutnya, perguruan tinggi saat ini harus mengambil peran lebih besar sebagai pusat solusi bagi masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa dunia sedang menghadapi berbagai tantangan besar seperti perkembangan kecerdasan buatan, perubahan iklim, transisi energi, ketahanan pangan, ketidakpastian ekonomi global, hingga dinamika geopolitik. Karena itu, universitas tidak cukup hanya menjadi tempat belajar dan menghasilkan lulusan.

“UMI tidak ingin hanya menjadi penghasil ijazah. UMI ingin menjadi penghasil solusi,” tegas Prof Hambali di hadapan peserta konferensi.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, UMI terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Hingga saat ini, UMI telah mencatatkan 511 hak cipta terdaftar serta dua merek terdaftar sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi hasil penelitian dan penguatan inovasi kampus.

Menurut Prof Hambali, hasil penelitian harus mampu berkembang menjadi teknologi tepat guna, perusahaan rintisan berbasis inovasi kampus, produk industri, hingga solusi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Paradigma riset juga perlu diarahkan pada dampak dan keberlanjutan, bukan semata-mata jumlah publikasi ilmiah.

Ia menilai kawasan Indonesia Timur memiliki potensi besar sebagai laboratorium masa depan Indonesia. Kekayaan biodiversitas, sumber daya kelautan, energi hijau, mineral strategis, hingga ekonomi maritim menjadi modal penting untuk mendorong inovasi yang mampu bersaing di tingkat global.

“Dengan dukungan BRIN, UMI meyakini dapat berkembang menjadi pusat hilirisasi pangan dan industri nasional,” ujarnya.

Ketua Pengurus Yayasan Wakaf UMI, Prof. Masrurah Mokhtar, menyampaikan bahwa konferensi ini merupakan ikhtiar intelektual untuk mempertemukan gagasan riset dan pengalaman dari berbagai negara. Menurutnya, pembahasan mengenai keberlanjutan tidak hanya dilihat dari aspek teknis, tetapi juga dari sisi nilai, etika, dan budaya yang sejalan dengan prinsip Rahmatan Lil Alamin.

Ia berharap forum tersebut mampu menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dalam bentuk policy brief yang dapat dimanfaatkan pemerintah, industri, dan masyarakat ASEAN. Selain itu, konferensi juga diharapkan dapat memperkuat kolaborasi internasional serta mendorong lahirnya generasi ilmuwan muda yang terus mengembangkan pemikiran tentang pembangunan berkelanjutan.

Dalam sesi utama konferensi, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, menekankan pentingnya penelitian berbasis data dan bukti ilmiah untuk menjawab berbagai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi komitmen global hingga tahun 2030. Ia menilai riset harus mampu memberikan solusi nyata terhadap isu perubahan iklim, ketahanan pangan, energi, dan pengelolaan lingkungan.

Prof Arif juga memaparkan sejumlah inovasi BRIN, mulai dari pengembangan varietas tanaman tahan salinitas untuk menghadapi dampak perubahan iklim, teknologi pengolahan limbah plastik menjadi bahan bakar melalui metode fast pyrolysis, hingga pemanfaatan teknologi nuklir untuk kesehatan, pangan, dan iradiasi produk ekspor. Menurutnya, inovasi-inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. (Jahja)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *