Sejarah dan Tradisi Suro di Makam Atas Angin Popongan Purworejo

Berita, Uncategorized139 Dilihat
banner 468x60

Purworejo, 86News.co – Petilasan dan Makam Atas Angin, Dusun Karangjati, Desa Popongan, Banyuurip, kembali menjadi pusat ziarah saat ratusan warga menggelar tirakatan malam 1 Suro 1 Muharam 1448 Hijriah, Senin (15/6/2026) malam.

Di balik ritual mujahadah dan kenduri 17 tumpeng-ingkung, tersimpan jejak sejarah yang menghubungkan Purworejo dengan Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, hingga Perang Diponegoro.

banner 336x280

Kawasan yang diyakini sebagai tempat singgah dan peristirahatan tokoh-tokoh penting masa lalu itu dijaga warga melalui tradisi lisan turun-temurun.

Setiap 1 Suro, doa dan tahlil yang dipanjatkan sekaligus menjadi cara merawat memori kolektif tentang leluhur.

Kadus Karangjati Sumarman menyebut tradisi ini ia lanjutkan sejak 2017.

“Tempat ini punya nilai sejarah. Leluhur kita dulu singgah dan dimakamkan di sini,” ujarnya. Peserta tirakatan tidak hanya dari Karangjati, tapi juga datang dari Ngombol, Semawung, hingga luar Purworejo.

Tokoh masyarakat Desa Popongan Heru Wibowo menjelaskan, malam 1 Suro adalah momentum eling lan waspada untuk introspeksi dan mengenang jasa pendahulu.

“Ini bentuk nguri-uri budaya Jawa agar manusia tidak lupa asal-usul dan sejarahnya,” katanya.

Bowo menilai tirakatan di situs bersejarah seperti Atas Angin adalah kearifan lokal yang mengajarkan gotong royong dan penghormatan pada sejarah. Nilai itu dianggap penting agar generasi muda memahami identitasnya tidak lahir dari ruang kosong.

Menurut cerita lisan masyarakat Desa Popongan, sejumlah nama besar masa lalu dipercaya pernah singgah atau dimakamkan di Atas Angin:

1. Eyang Sutotruno

Tokoh spiritual yang dihormati warga. Namanya kerap disebut sebagai salah satu sesepuh yang membuka dan menjaga kawasan Atas Angin.

2. Ratu Ayu Atas Angin / Raden Endang Roro Palupi

Tokoh perempuan bangsawan yang namanya dilekatkan pada kawasan. Dipercaya memiliki garis hubungan dengan keraton Jawa.

3. Bendara Raden Ayu Ageng Serang

Sosok perempuan pejuang dari Pesisir Selatan Jawa. Dikenal gigih melawan penjajahan Belanda. Keterkaitannya dengan Atas Angin menambah nuansa kepahlawanan pada situs ini.

4. Eyang Mangun Wilogo

Figur spiritual yang diyakini hidup pada masa pergolakan. Namanya disebut dalam tuturan warga sebagai bagian dari rantai leluhur penjaga wilayah.

5. Kyai Supi

Ulama atau tokoh agama yang disegani. Kehadirannya menandai kuatnya tradisi Islam-sinkretis Jawa di kawasan tersebut.

6. Tokoh Masa Perang Diponegoro

Warga meyakini beberapa pejuang Pangeran Diponegoro pernah melintas atau berlindung di area Atas Angin. Hal ini menempatkan situs ini sebagai saksi bisu perlawanan terhadap kolonial Belanda.

Sebagian besar kisah di atas masih berupa tradisi lisan yang hidup di masyarakat dan menjadi bagian khazanah sejarah lokal Purworejo. Penelusuran arkeologis dan dokumentasi tertulis masih diperlukan untuk verifikasi lebih lanjut.

Warga berharap, selama kisah Atas Angin terus diceritakan setiap 1 Suro, benang merah antara Purworejo masa kini dengan jejak keraton dan para pejuang tidak akan putus. (Ananto)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *