KOTA KINABALU, 86NEWS.CO- Silaturahmi dan kunjungan Pater Markus Solo Kewuta, SVD selaku delegasi Takhta Suci Vatikan ke Masjid Negeri Sabah di Kota Kinabalu, Malaysia, dalam rangka memperkuat dialog lintas agama, disambut antusias dan berlangsung hangat.
Pater Markus Solo mengatakan, rangkaian agenda kunjungan tersebut terdiri dari dialog, sharing session seputar sosial keagamaan, serta rencana kerja sama yang akan dilakukan.
“Saya memulai dengan sapaan bahasa Arab, sedikit bahasa Inggris, lalu seluruh dialog berlangsung dalam bahasa Indonesia. Mereka sangat antusias karena memahami bahasa Indonesia dengan baik,” kata Pater Markus Solo, Rabu (17/06), melalui keterangan tertulis kepada wartawan.
Menurut Pater Markus, Islam di Sabah, Malaysia, mempunyai banyak kesamaan dengan Islam di Indonesia, terlebih dalam karakter masyarakatnya yang dinilainya terbuka, ramah, dan santun sehingga lebih mudah membangun relasi.
Selain itu, pastor asal NTT yang saat ini berkarya di Kuria Takhta Suci Vatikan itu mengatakan, masyarakat Sabah di wilayah Borneo mempunyai kedekatan secara bahasa dan budaya dengan Indonesia. Bahasa yang digunakan pun dinilainya lebih dekat dengan Indonesia dibandingkan dengan Semenanjung Malaysia.
“Jadi, di Borneo itu, bahasa Melayu terasa lebih dekat dan lebih mudah dipahami sebagai bahasa Indonesia. Karena itu, saya merasa seperti berada di Indonesia sendiri,” kata Pater Markus Solo.
Kedekatan budaya dan bahasa tersebut, lanjut Pater Markus Solo, juga dirasakan saat dirinya memimpin perayaan Misa utama di Katedral Kota Kinabalu pada Minggu, 14 Juni lalu.
Misa yang dihadiri sekitar 4.000 umat dengan mayoritas masyarakat asli Sabah tersebut dipimpin Pater Markus Solo menggunakan bahasa Indonesia dan dapat dipahami dengan baik oleh seluruh umat yang hadir.
“Saya merasa seperti merayakan Misa di Indonesia. Ini menunjukkan betapa kuat relasi budaya dan tradisi antara Indonesia dan Sabah,” terang Pater Markus.
Dalam agenda kunjungan dan silaturahmi tersebut, delegasi Takhta Suci Vatikan disambut hangat oleh pihak Masjid Raya Negeri Sabah yang juga memberikan cendera mata berupa kain lipa, sarung tenun tradisional khas setempat.
“Hadiah kain lipa itu membuat saya teringat masa kecil di kampung. Rasanya sangat akrab dan penuh nostalgia,” terang Pater Markus.
Selain itu, agenda kunjungan dan silaturahmi tersebut juga berlangsung menggunakan komunikasi bahasa Melayu-Indonesia.
Meski sebelumnya penyambutan dilakukan menggunakan bahasa Inggris, namun saat pihak masjid mengetahui tamu dari Takhta Suci Vatikan itu berasal dari Indonesia, pihak tuan rumah segera mengganti percakapan menggunakan bahasa Melayu.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan jamuan makan siang yang disiapkan oleh pihak Masjid Negeri Sabah sebagai bentuk penghormatan kepada rombongan tamu. (Haji Merah)











