GARUT, 86News.co – Monumen pesawat yang dibangun di lokasi yang dikenal dengan nama TDB (Titik Depan Bumi) di Kadungora, tepatnya di Gunung Haruman, bukan hanya sekadar sebuah bangunan monumental. Keberadaan monumen ini memiliki makna yang dalam, terutama dalam konteks pengembangan dan pelestarian olahraga udara di Indonesia.
Monumen ini dibangun untuk menghormati dan memperkenalkan perkembangan pesat dunia olahraga dirgantara yang semakin dikenal di masyarakat, serta untuk mempromosikan Gunung Haruman sebagai salah satu pusat olahraga udara yang terkemuka di tanah air.
H Basuki Eko SH,.MH salah seorang unsur Aktifis Olah raga Paralayang, Ketua pelaksana Adalaah Asisten Potensi Dirgantara (Aspotdirga) KOPASGAT TNI AU Kolonel Pas Dadang monumen pesawat AS 202 Bravo TNI AU menjelaskan dalam sebuah wawancara via Telphon seluler,. Gunung Haruman memiliki sejarah panjang sebagai lokasi yang strategis dan ideal untuk berbagai jenis olahraga udara.
Di sini terdapat sebuah pusat pelatihan olahraga udara yang dikenal dengan nama Haruman Jingga. Nama tersebut diambil dari warna baret Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Cepat), yang merupakan simbol kebanggaan dan kehormatan dari satuan elite TNI Angkatan Udara Indonesia.
Hal ini menggambarkan betapa pentingnya Gunung Haruman sebagai tempat bersejarah dalam dunia dirgantara, bukan hanya untuk latihan militer, namun juga untuk masyarakat umum yang ingin menekuni berbagai macam olahraga udara.
Di Haruman Jingga, berbagai jenis olahraga dirgantara dilatih dan dikembangkan. Di antaranya adalah paralayang, gantole, paramotor, aeromodeling, hingga terjun payung. Semua olahraga ini memerlukan keterampilan khusus serta tempat yang mendukung, dan Gunung Haruman terbukti memberikan fasilitas yang lengkap untuk kebutuhan tersebut.
Keindahan alam sekitar yang masih asri dan terbuka juga menjadi nilai tambah untuk kegiatan olahraga ini, yang memungkinkan para atlet dan penggemar olahraga udara untuk merasakan sensasi dan tantangan baru dalam lingkungan yang alami.
Monumen pesawat yang berdiri kokoh di TDB diharapkan menjadi simbol dari prestasi dan keseriusan Indonesia dalam mengembangkan olahraga udara. Tidak hanya sebagai sarana penghormatan terhadap sejarah, tetapi juga sebagai alat edukasi bagi masyarakat luas mengenai potensi olahraga dirgantara.
Monumen ini diharapkan bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk mengenal lebih dalam mengenai berbagai macam olahraga udara yang dapat dilakukan di Gunung Haruman.
Selain itu, pembangunan monumen pesawat ini juga merupakan bagian dari upaya untuk menjadikan Gunung Haruman sebagai destinasi wisata olahraga udara yang menarik. Ke depan, diharapkan kawasan ini tidak hanya digunakan untuk latihan, tetapi juga menjadi tempat wisata yang dapat dinikmati oleh wisatawan lokal dan mancanegara.
Salah satu hal yang direncanakan adalah penyediaan jasa tandem olahraga udara, di mana pengunjung dapat merasakan langsung sensasi olahraga udara seperti paralayang atau terjun payung bersama instruktur berlisensi. Ini tentu saja akan menjadi pengalaman unik yang akan meningkatkan daya tarik Gunung Haruman sebagai lokasi wisata olahraga yang berbeda dari wisata konvensional lainnya.
Dengan adanya monumen pesawat di TDB dan pengembangan lebih lanjut dari fasilitas di Haruman Jingga, harapan besar pun muncul: Gunung Haruman akan menjadi pusat kebanggaan olahraga udara Indonesia, serta memberikan dampak positif bagi perkembangan pariwisata olahraga di Tanah Air.
Diharapkan, kawasan ini dapat menarik lebih banyak minat dari masyarakat dan menjadi wadah untuk mengembangkan potensi generasi muda dalam dunia dirgantara.
MUKRIN

















