ACEH SELATAN, 86News.co — Babak 8 besar Turnamen Sakura Cup IV kembali menghadirkan tontonan penuh adrenalin yang membuat ribuan pasang mata di Lapangan Leudong Mekong terpaku tanpa kedip. Laga yang berlangsung ketat itu bukan hanya menyuguhkan kualitas permainan tinggi, tetapi juga drama emosional yang memuncak hingga ke tribune penonton.
Sejak peluit pertama bergema, kedua kesebelasan tampil habis-habisan. Adu fisik, serangan cepat, dan peluang berbahaya membuat atmosfer lapangan terus menghangat. Semangat suporter di pinggir lapangan pun meledak-ledak, mengikuti ritme permainan yang semakin menegangkan.
Atmosfer laga benar-benar “seungit”—ketat, keras, dan penuh pertaruhan—hingga sorakan, desahan tegang, dan tepuk tangan tak pernah berhenti terdengar.
Namun drama pecah ketika kesebelasan Pudeska tidak menerima salah satu keputusan wasit di menit-menit akhir. Protes keras langsung terjadi di tengah lapangan. Emosi pemain dan ofisial memuncak, diikuti letupan ketegangan dari sebagian suporter yang tak puas.
Dalam hitungan detik, suasana di sekitar lapangan memanas. Teriakan keberatan dari sejumlah suporter terdengar, dan situasi sempat tidak terkendali sehingga beberapa fasilitas umum di area pertandingan hampir mengalami dampak dari ketegangan tersebut.
Ketua Panitia Turnamen, Bakri Guha, mengakui bahwa situasi tersebut berlangsung begitu cepat dan sulit dibendung.
Panitia bersama aparat keamanan harus bekerja ekstra untuk meredam kerumunan dan memastikan situasi tidak berkembang menjadi kericuhan yang lebih luas.
“Kondisinya cukup panas. Kita hampir kewalahan, tapi Alhamdulillah semua pihak bergerak cepat demi keamanan bersama,” ujar Bakri Guha. Kamis (11/12/2025).
Di tengah memanasnya situasi, Panglima KPA Wilayah Lhok Tapaktuan, Juandra—yang akrab disapa Iwan Marinir—bersama Presiden PSkR, Munawir atau Pak Areh, serta berbagai unsur masyarakat lainnya turut hadir untuk menenangkan massa dan meredam ketegangan. Kolaborasi seluruh pihak ini memberikan dampak signifikan dalam menurunkan eskalasi emosi di lapangan, sehingga kondisi perlahan kembali lebih terkendali.
Meski sempat diwarnai insiden, antusiasme masyarakat terhadap Sakura Cup IV tidak berkurang. Justru, rangkaian laga sebelumnya yang selalu menampilkan permainan berkualitas membuat turnamen ini semakin menarik untuk disaksikan dan terus dinantikan kehadirannya oleh para pecinta bola di Aceh Selatan.
Panitia memastikan pertandingan selanjutnya akan dihelat dengan pengamanan yang lebih ketat, demi menjaga kenyamanan dan keselamatan penonton.
Turnamen Sakura Cup IV kembali menunjukkan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah arena tempat emosi, gairah, dan kebanggaan masyarakat berpadu; tempat ribuan penonton larut dalam euforia yang menyatukan. (Id)











