Tembok Kepercayaan Ditengah Suntikan 200 Triliun : Mengapa Kredit Belum Bergerak

Opini840 Dilihat
banner 468x60

86NEWS.CO – Kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menempatkan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp 200 triliun ke sejumlah bank BUMN tahun lalu merupakan langkah ekspansif yang ditujukan untuk mempercepat pemulihan ekonomi.

Dengan tambahan likuiditas sebesar itu, harapannya jelas: perbankan semakin leluasa menyalurkan kredit, sektor riil kembali bergairah, dan UMKM memperoleh ruang lebih luas untuk berekspansi. Dalam kerangka fiskal, penguatan likuiditas memang kerap diposisikan sebagai motor penggerak pertumbuhan.

banner 336x280

Namun realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Mari Elka Pangestu, mencatat pertumbuhan kredit masih berada di kisaran 7,9 persen, belum menembus dua digit.

Angka tersebut menunjukkan bahwa likuiditas besar belum otomatis bertransformasi menjadi pembiayaan produktif. Dengan kata lain, persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya dana.

Dari sisi moneter, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan dari 6 persen menjadi 4,75 persen sepanjang 2025. Secara teori, pelonggaran ini seharusnya diikuti penurunan suku bunga kredit sehingga mendorong permintaan pinjaman. Namun transmisi kebijakan berjalan kurang optimal.

Dunia usaha masih merasakan biaya kredit yang relatif tinggi, sementara ketidakpastian ekonomi membuat pelaku bisnis menahan ekspansi.

Perdebatan pun mengerucut pada soal suplai dan permintaan. Dari sisi suplai, likuiditas perbankan memadai. Bahkan, sejumlah fasilitas kredit telah disetujui dan siap dicairkan.

Namun realisasi penarikannya tertahan. Fakta ini mengindikasikan bahwa hambatan utama terletak pada sisi permintaan atau lebih tepatnya, pada ekspektasi pelaku usaha terhadap kondisi ekonomi ke depan.

Daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya menjadi salah satu faktor kunci. Ketika konsumsi rumah tangga melambat, perputaran usaha ikut tersendat dan margin keuntungan menipis. Dalam situasi seperti ini, ekspansi menjadi keputusan yang sarat risiko.

Tekanan nilai tukar akibat defisit neraca pembayaran dan arus modal keluar turut menambah ketidakpastian. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor bahan baku dan memengaruhi struktur biaya produksi. Maka, sikap bertahan kerap dinilai lebih rasional dibandingkan memperbesar utang baru.

Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia, Hery Gunardi, menegaskan bahwa perlambatan kredit tidak dapat dilihat semata dari aspek likuiditas. Struktur sektoral ekonomi domestik belum sepenuhnya pulih. Sektor manufaktur, pertanian, dan perdagangan sebagai penyumbang utama PDB dan penyerapan tenaga kerja, masih menghadapi tekanan permintaan. Ketika konsumsi melemah dan prospek pasar belum meyakinkan, ekspansi tertunda, dan pertumbuhan kredit pun ikut melambat.

Menariknya, sebagian kredit sebenarnya telah “siap pakai”. Bank menyediakan plafon, risiko telah diperhitungkan, dan likuiditas mencukupi. Namun dunia usaha memilih bersikap wait and see.

Di sinilah terlihat adanya tembok kepercayaan antara kebijakan makro dan keputusan mikro. Pemerintah mendorong ekspansi melalui injeksi likuiditas, tetapi pelaku usaha tetap berhitung dengan risiko pasar.

Pada akhirnya, kredit adalah cerminan ekspektasi terhadap masa depan. Pengusaha meminjam bukan semata karena dana tersedia, melainkan karena mereka yakin permintaan akan tumbuh dan investasi akan memberikan imbal hasil. Tanpa keyakinan tersebut, tambahan likuiditas sebesar Rp 200 triliun berpotensi hanya menjadi angka di neraca perbankan.

Pelajaran penting dari situasi ini adalah bahwa kebijakan ekonomi tidak dapat bertumpu pada satu instrumen. Likuiditas merupakan prasyarat, tetapi bukan jaminan. Pemerintah perlu menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat daya beli, menstabilkan nilai tukar, serta memastikan kepastian regulasi agar dunia usaha memiliki landasan yang kokoh untuk berekspansi. Sinergi fiskal dan moneter harus berjalan seiring dengan penguatan sektor riil.

Pemulihan ekonomi pada akhirnya adalah soal membangun optimisme kolektif. Tanpa kepercayaan, likuiditas tidak akan bergerak. Ketika keyakinan terhadap prospek ekonomi pulih, kredit akan mengalir dan pertumbuhan akan menemukan momentumnya kembali. Mfd

Oleh : Mahfudnurnajamuddin ,Guru Besar UMI Makassar / Asdir 2 Program Pascasarjana UMI Makassar

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *