Kematian Larijani dan Ketahanan Ekonomi Iran: Dari Tekanan Menjadi Kekuatan

Opini390 Dilihat
banner 468x60

86NEWS.CO – Meninggalnya Ali Larijani dalam eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel semula dipandang sebagai pukulan besar bagi stabilitas internal Iran. Sebagai tokoh penting dalam struktur politik dan strategis negara, kehilangan Larijani diyakini dapat melemahkan koordinasi dan arah kebijakan Iran. Namun, sebagaimana terungkap dalam wawancara Breaking News bersama Stepi Andriani dan Anan Nurdin, yang terjadi justru sebaliknya: Iran tampil semakin agresif dan kokoh.

Fenomena ini menarik jika ditelaah dari perspektif ekonomi. Kematian Larijani tidak hanya menjadi peristiwa politik, tetapi juga momentum konsolidasi nasional yang berdampak langsung pada ketahanan ekonomi Iran. Dalam banyak kasus, tekanan eksternal termasuk kehilangan elite- justru memperkuat solidaritas domestik dan mempercepat mobilisasi sumber daya ekonomi. Selama bertahun-tahun, Iran telah ditempa oleh berbagai sanksi ekonomi internasional. Kondisi ini memaksa negara tersebut membangun sistem ekonomi yang relatif mandiri dan tahan terhadap guncangan. Ketika Larijani meninggal, fondasi ekonomi ini menjadi penopang utama yang mencegah terjadinya disrupsi besar. Aktivitas ekonomi tetap berjalan, distribusi energi tidak terhenti, dan stabilitas domestik relatif terjaga.

banner 336x280

Dalam wawancara tersebut, Anan Nurdin menekankan bahwa strategi serangan terhadap elite Iran tidak secara otomatis melemahkan negara, karena Iran telah memiliki sistem yang cukup kuat untuk menyerap guncangan.

Bahkan, kehilangan figur penting seperti Larijani justru mempercepat konsolidasi kebijakan, termasuk dalam pengelolaan ekonomi nasional. Sementara itu, Stepi Andriani melihat bahwa respons agresif Iran pasca kematian Larijani tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ekonomi strategis. Iran tidak hanya merespons secara militer, tetapi juga memanfaatkan posisinya dalam peta energi global.

Salah satu kekuatan utama Iran terletak pada kendalinya atas Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak melonjak, biaya logistik meningkat, dan tekanan inflasi dirasakan di berbagai negara. Dalam kondisi ini, Iran justru berada pada posisi tawar yang unik. Sebagai salah satu aktor kunci di kawasan, Iran memiliki kemampuan untuk memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat konflik juga memberikan keuntungan ekonomi tidak langsung bagi Iran. Meskipun berada di bawah sanksi, lonjakan harga energi tetap membuka peluang peningkatan pendapatan, baik secara langsung maupun melalui jalur perdagangan alternatif.

Hal ini memperkuat kapasitas fiskal Iran dalam menghadapi konflik berkepanjangan. Dengan demikian, kematian Larijani tidak hanya gagal melemahkan Iran, tetapi justru memperlihatkan tingkat ketahanan ekonomi yang tinggi.

Iran menunjukkan bahwa kekuatan negara tidak semata bergantung pada individu, melainkan pada sistem yang mampu bertahan di tengah tekanan.

Lebih jauh, peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana ekonomi telah menjadi bagian integral dari strategi konflik modern. Iran tidak hanya bertarung di medan militer, tetapi juga memainkan peran dalam mengendalikan dinamika ekonomi global.

Tekanan terhadap jalur energi, fluktuasi harga minyak, dan gangguan rantai pasok menjadi instrumen penting dalam memperkuat posisi tawar Iran.

Bagi dunia, situasi ini membawa konsekuensi yang luas. Konflik Iran versus Amerika Serikat dan Israel kini berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi, menekan daya beli, dan memperberat beban fiskal pemerintah.

Pada akhirnya, kematian Ali Larijani menjadi simbol dari sebuah paradoks: tekanan yang dimaksudkan untuk melemahkan justru berubah menjadi sumber kekuatan. Dalam konteks ekonomi, Iran menunjukkan bahwa ketahanan yang dibangun melalui tekanan panjang dapat menjadi modal utama dalam menghadapi krisis. Dan dalam dunia yang semakin saling terhubung, kekuatan ekonomi seperti inilah yang sering kali lebih menentukan dibandingkan kekuatan militer semata. Mfd.-

Oleh : Mahfudnurnajamuddin
Guru Besar FEB UMI/ Asdir II PPs UMI Makassar.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *