Orang Tua Murid SMPN 2 Purworejo Murka, Desak Usut Tuntas Dapur SPPG Meranti

Berita, Uncategorized159 Dilihat
banner 468x60

Purworejo, 86News.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang pemerintah justru tercoreng noda memalukan. Belum genap sepekan berjalan, MBG di SMPN 2 Purworejo sudah disusupi benda menjijikkan mirip ulat.

Temuan ini berasal dari dapur SPPG Meranti, pada Senin (27/04/2026), dan langsung memantik kemarahan publik.

banner 336x280

Salah satu orang tua siswa SMPN 2 Purworejo yang enggan disebutkan namanya tak bisa menyembunyikan kegeramannya. Ia mengaku syok saat sadar sekolah anaknya menjadi korban kelalaian fatal tersebut.

“Terus terang saya kaget. Setelah membaca berita itu, saya langsung tersadar bahwa itu terjadi di sekolah anak saya sendiri. Ini bukan hal sepele,” tegasnya saat ditemui, Rabu (29/04/2026).

Bukti Nyata Kelalaian Penyelenggara

Bagi orang tua murid, insiden ulat dalam MBG adalah bukti telanjang lemahnya sistem.

Program yang menyangkut kesehatan ribuan anak sekolah ternyata dijalankan tanpa pengawasan ketat dan kesiapan matang.

“Ini sangat ceroboh. Baru beberapa hari sudah muncul kejadian seperti ini. Artinya ada yang tidak beres dari awal, baik dari proses pengolahan, distribusi, maupun pengawasan,” kecamnya.

Ia menyebut hal ini sebagai kelalaian serius. Makanan untuk anak-anak wajib memenuhi standar higienitas tertinggi. Jika benda asing seperti ulat bisa lolos, apa jaminan makanan itu aman dari bakteri dan racun?

Peringatan Keras: Jangan Tutup-Tutupi

Orang tua siswa SMPN 2 Purworejo juga sangat mengapresiasi kepada media yang berani membongkar kasus ini.

Ia mewanti-wanti agar skandal ini tidak dipetieskan. Fungsi kontrol sosial pers harus terus digas hingga ada yang bertanggung jawab.

“Saya sangat mendukung teman-teman media. Justru ini harus terus diangkat. Media adalah kontrol bagi masyarakat. Kalau tidak diberitakan, bisa jadi hal seperti ini dianggap biasa,” ujarnya.

Protes keras ia layangkan langsung ke dapur SPPG Meranti. Ia mendesak investigasi total tanpa kompromi. Tidak boleh ada pembiaran, tidak boleh ada yang kebal hukum.

“Saya protes keras. Ini menyangkut kesehatan anak-anak. Jangan sampai ada pembiaran. Harus diusut tuntas, dan kalau ada pihak yang lalai, harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Orang Tua Tak Mau Anak Jadi Korban

Ia menegaskan, kasus ini tidak boleh berhenti sebagai berita sensasional sesaat. Publik dan orang tua menuntut jaminan nyata, bukan klarifikasi basi. Nyawa dan kesehatan anak-anak taruhannya.

“Mohon ini terus digas. Jangan berhenti di sini. Kami sebagai orang tua butuh jaminan bahwa anak-anak kami aman, bukan malah jadi korban kelalaian,” pungkasnya. (Ananto)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *