Di Balik Seragam dan Tugas: Saat Kasat Reskrim Polres Padang Lawas Mengetuk Pintu Bangsal Anggotanya

Berita, Uncategorized161 Dilihat
banner 468x60

Palas, 86News.co – Di bawah temaram lampu selasar salah satu rumah sakit di Sibuhuan, langkah kaki AKP Irwansah Sitorus terdengar mantap namun penuh empati. Malam itu, Jumat (5/6/2026), Kasat Reskrim Polres Padang Lawas (Palas) tersebut tidak sedang mengejar target perkara atau memimpin gelar kasus. Ia datang membawa misi yang jauh lebih personal: menjenguk “tangan kanannya” yang sedang tumbang.

Di dalam kamar perawatan, Ipda Arpan Harahap duduk lemah. Kanit Pidum yang biasanya garang mengungkap tindak kriminal itu kini harus menyerah pada serangan tipes. Tubuhnya yang tegap dipaksa beristirahat oleh rasa sakit, sebuah konsekuensi dari dedikasi tanpa batas yang ia curahkan selama berbulan-bulan terakhir.

banner 336x280

Permohonan Maaf di Sisi Ranjang

Kehadiran AKP Irwansah tidak sendirian. Ia memboyong serta “keluarga kecilnya” dari Sat Reskrim; Bripka Andre Sihombing, Bripda Samuel, Bripda Leo, serta beberapa staf lainnya. Kehadiran mereka seolah memindahkan kehangatan ruang kantor ke dalam dinginnya ruang perawatan.

Ada momen haru yang tercipta ketika Irwansah menghampiri istri Ipda Arpan. Alih-alih hanya memberikan kata penghiburan standar, sang Kasat Reskrim justru menyampaikan permohonan maaf yang tulus.

“Saya mohon maaf ya, Bu. Karena tugas-tugas berat yang saya berikan, Kanit sampai jatuh sakit seperti ini,” ucap AKP Irwansah pelan namun sarat makna.

Ia menyadari betul bahwa di balik keberhasilan setiap kasus yang terungkap, ada waktu istirahat anggotanya yang terampas. “Mungkin Kanit kecapekan. Beberapa bulan terakhir, beliau hampir selalu pulang pagi. Beban kerja memang sedang tinggi-tingginya,” tambahnya dengan nada prihatin.

Dedikasi yang Tak Kenal Pamit

Bagi seorang polisi, pengabdian seringkali menuntut segalanya, termasuk kesehatan pribadi. Ipda Arpan, meski dalam kondisi pucat, mencoba menyunggingkan senyum. Baginya, rasa sakit ini hanyalah bagian dari risiko profesi yang ia cintai.

“Ini sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai anggota Polri, Komandan,” respons Arpan lirih. Tidak ada nada penyesalan dalam suaranya, hanya ada rasa terima kasih yang mendalam karena ditengah kesibukan yang luar biasa, pimpinannya masih menyempatkan waktu untuk hadir memberikan dukungan moril.

Lebih dari Sekadar Atasan dan Bawahan

Kunjungan malam itu bukan sekadar formalitas kedinasan. Ini adalah potret sisi humanis dari Korps Bhayangkara di Padang Lawas. Di balik seragam cokelat yang mereka kenakan, ada ikatan persaudaraan yang kuat.

Momentum ini menjadi pengingat bagi setiap personel bahwa mereka bukan sekadar angka dalam statistik organisasi, melainkan bagian dari sebuah keluarga besar yang saling menjaga saat salah satunya terjatuh.

Malam itu, di pusat jantung Sibuhuan, bukan hanya obat yang mempercepat kesembuhan Ipda Arpan, melainkan juga semangat dan kepedulian yang dibawa oleh rekan-rekan sejawatnya. Sebuah bukti bahwa dalam dunia penegakan hukum yang keras, empati tetap memiliki tempat yang paling utama. (Siregar)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *