Pangandaran, 86News.co – Bagi masyarakat pesisir Kabupaten Pangand, laut bukan sekadar hamparan air asin yang membentang luas. Ia adalah sumber kehidupan, pemberi rezeki, dan bagian tak terpisahkan dari identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.
Setiap tahunnya, ikatan batin yang kuat itu terwujud dalam sebuah tradisi sakral bernama Hajat Laut, sebuah upacara yang menjadi cerminan rasa syukur sekaligus bentuk penghormatan mendalam kepada alam semesta.
Dalam kesempatan itu, H. Ujang Endin Indrawan memberikan penjelasan mendalam mengenai asal-usul dan makna hakiki Hajat Laut agar dipahami oleh generasi muda maupun tamu undangan.
Menurutnya, tradisi ini telah dijalankan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang, dan rutin digelar setiap awal tahun Islam, tepatnya pada 1 Muharram atau Bulan Sura.
“Pada mulanya, ini hanya pertemuan sederhana para nelayan untuk bersyukur setelah kembali melaut dengan selamat dan membawa hasil tangkapan yang cukup. Lama-kelamaan berkembang menjadi upacara bersama yang menyatukan seluruh warga pesisir,” jelasnya. Selasa (16/06/2026) saat diwawancarai via aplikasi chat WhatsApp.
Ia pun menegaskan makna sesungguhnya dari tradisi ini agar tidak disalahartikan. “Hajat Laut bukanlah bentuk pemujaan terhadap roh atau penunggu laut, sebagaimana anggapan sebagian orang. Intinya adalah ungkapan rasa syukur dan tasyakur semata kepada Allah SWT, Sang Pemilik Alam Semesta,” tegas H. Ujang Endin.
Prinsip yang dipegang teguh adalah “Adat bersandikan syara dan syara bersandikan kitabullah,” Artinya bahwa adat itu harus sejalan dengan agama dan agama berpedoman kepada kitab suci.
Prosesi larung sesaji atau dongdang yang berisi hasil bumi dan hasil laut terbaik, lanjutnya, adalah simbol mengembalikan sebagian rezeki yang diterima sebagai tanda hormat dan pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Tuhan.
Selain sebagai wujud syukur, tradisi ini juga mengandung nilai luhur lainnya: mempererat persatuan melalui semangat gotong royong, mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian alam agar tidak dieksploitasi secara berlebihan, serta menjadi aset budaya yang dapat mendukung pengembangan pariwisata dan perekonomian daerah. (Red)
















