Mengapa Orang Sampai Ribut Mengejar Jabatan

Berita, Uncategorized106 Dilihat
banner 468x60

Makassar, 86News.co – Jabatan adalah amanah atau tanggung jawab yang di berikan kepada seseorang yang.memenuhi syarat baik dari segi kemampuan ilmu.maupun dari segi kontrol diri. Sayangnya banyak orang yang tidak menyadari dirinya kalau belum memenuhi sarat, namun memaksakan kehendaknya, sehingga berdampak mengapa sebagian orang sampai ribut, bertengkar, saling menjatuhkan, bahkan memutus silaturahmi demi mengejar jabatan.

Dalam ceramah kultum ba’dah Sholat Dhuhur Kamis 17 Juni 2026 di Mesjid Pasca Sarjana umi makassar, Uztadz Dr. A.istiqlal Assaad,SH.,MH mengatakan jabatan bukan permainan karena harus dipertanggung jawabkan baik di dunia maupun di akhirat.

banner 336x280

Dalam konteks ini, ada sebuah kalimat yang sangat dalam maknanya:
“Ajari aku beretika, beri aku ilmu dan tegurlah diriku agar menjadi lebih baik.”

Apabila kalimat ini benar-benar tertanam dalam hati setiap orang, maka perebutan jabatan yang melahirkan permusuhan akan berkurang. Sebab seseorang akan lebih sibuk memperbaiki dirinya dari pada mencari-cari kekurangan orang lain.

Jabatan adalah Amanah, Bukan Kemuliaan
Rasulullah SAW bersabda:
“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan. Jika jabatan itu diberikan karena permintaanmu, maka engkau akan dibebani olehnya.

Namun jika diberikan tanpa engkau memintanya, maka engkau akan ditolong untuk menjalankannya.” (HR. Bukhari No. 7146 dan Muslim No. 1652)
Hadis ini menunjukkan bahwa jabatan bukanlah kemuliaan yang harus diperebutkan, melainkan amanah yang berat.

Sayangnya, banyak orang lebih bersemangat mengejar jabatan daripada memperbaiki akhlak dan kapasitas dirinya. Mereka ingin dihormati, tetapi lupa belajar menghormati orang lain. Mereka ingin memimpin, tetapi belum mampu memimpin dirinya sendiri.

Lebih jauh Dr.A.Istiqlal Assaad S.H.,M.H, yang juga Sekertaris Prodi Doktor Ilmu Hukum pada Program pascasarjana UMI Makassar menambahkan dalam kehidupan sehari- hari,sejatinya seseorang harus memahami arti kehidupan bermasyarakat, terutama soal etika.

Yang pertama “Ajari aku beretika.”
Etika atau akhlak adalah fondasi kepemimpinan. Orang yang memiliki jabatan tetapi tidak memiliki etika akan mudah menyakiti orang lain dengan ucapan dan tindakannya.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Ketika seseorang diajari etika, ia akan memahami bahwa jabatan bukan alasan untuk sombong, merendahkan, atau menyingkirkan orang lain.

Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
Yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS. An-Nahl [16]: 23)

Maka sebelum bertanya, “Mengapa saya tidak dipilih?”, hendaknya seseorang bertanya, “Apakah akhlak saya sudah layak untuk menjadi teladan?”
Bagian kedua “Beri aku ilmu.”

Sering kali konflik dalam perebutan jabatan terjadi karena seseorang merasa paling mampu padahal tidak memiliki ilmu yang memadai.

Allah SWT berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Yg Artinya: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9)

Ilmu mengajarkan kerendahan hati. Semakin berilmu seseorang, semakin ia menyadari bahwa masih banyak yang harus dipelajari.

Orang yang berilmu tidak akan memaksakan diri memperoleh jabatan dengan segala cara.

Ia akan mempersiapkan diri, meningkatkan kompetensi, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Karena itu, sebelum mengejar kursi jabatan, kejarlah ilmu. Sebab jabatan tanpa ilmu akan melahirkan kerusakan, sedangkan ilmu akan melahirkan kebijaksanaan.
Bagian ketiga adalah “Tegurlah diriku agar menjadi lebih baik.”

Inilah bagian yang paling berat. Banyak orang senang dipuji, tetapi sedikit yang senang ditegur.

Padahal teguran yang benar adalah bentuk kasih sayang. Orang yang menegur kita atas kesalahan sesungguhnya sedang membantu kita memperbaiki diri.

Allah SWT berfirman:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Yang Artinya: “Dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 3)
Seseorang yang siap menerima teguran akan terus bertumbuh menjadi lebih baik. Sebaliknya, orang yang anti kritik akan sulit berkembang dan mudah terjebak dalam kesombongan.

Bisa jadi seseorang gagal mendapatkan jabatan bukan karena dizalimi, tetapi karena Allah ingin ia memperbaiki dirinya terlebih dahulu. Bisa jadi kritik yang datang kepadanya adalah jalan untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Mengapa Orang Ribut Mengejar Jabatan?
Karena mereka lupa tiga hal:
1. Lupa etika, sehingga menghalalkan segala cara;
2. Lupa ilmu, sehingga merasa paling benar dan paling layak;
3. Lupa menerima teguran, sehingga menganggap kritik sebagai musuh.

Padahal jika seseorang memiliki etika, ilmu dan kesediaan menerima nasihat, maka jabatan tidak akan menjadi sumber perpecahan.

Allah SWT berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
Yg Artinya: “Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Qashash [28]: 83)
Dengan etika kita belajar menghargai orang lain, dengan ilmu kita mengetahui mana yang benar dan dengan teguran kita memperbaiki kekurangan diri.

Jika kita memiliki ketiga hal tersebut, maka jabatan tidak akan membuat kita sombong, tidak mendapat jabatan tidak akan membuat kita marah dan kehilangan jabatan tidak akan membuat kita putus asa.

Sebab tujuan hidup seorang mukmin bukanlah menjadi orang yang paling berkuasa, melainkan menjadi orang yang paling bertakwa di sisi Allah SWT.

Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13)

Semoga Allah SWT mengajari kita etika yang mulia, menambahkan ilmu yang bermanfaat, menerima nasihat dan teguran dengan lapang dada, serta menjadikan kita pemegang amanah yang jujur dan bertakwa.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

(Jahja)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *