MANOKWARI -86News co.- 16 Juli 2026 — Tim redaksi telah melakukan penelusuran fakta dan berinteraksi langsung dengan sejumlah mantan warga binaan serta perwakilan organisasi resmi, guna mendapatkan gambaran utuh mengenai sosok petugas di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Manokwari, Jalan Kesehatan, Distrik Manokwari Selatan. Dari pertemuan dan percakapan mendalam tersebut, satu nama terus muncul sebagai sosok yang paling dihormati: Yosua Etanoi — yang juga sering ditulis Josua Etanoi dalam penyebutan masyarakat setempat — selaku Komandan Regu Jaga.
Pria kelahiran 1991 di Manokwari, yang tumbuh dan ditempa karakternya di tanah Wasior, mengawali pengabdiannya dari posisi paling dasar. Sejak hari pertama, ia memegang teguh satu prinsip yang kini menjadi bukti nyata: tegakkan aturan setinggi langit, namun perlakukanlah manusia sepenuh hati.
“Hukum memang harus tegak lurus, tidak boleh bengkok sedikitpun. Tetapi ingatlah: hukum itu diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Maka setegak apapun hukum itu, harus tetap berjiwa kemanusiaan.”
— Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia
Berdasarkan hasil interaksi dan wawancara langsung yang dilakukan redaksi, terungkap bahwa sosok Etanoi jarang dipanggil dengan jabatan resminya oleh mereka yang pernah dibinanya. Sapaan “Bapak Ayah” atau “Bapak Etanoi” lah yang paling sering keluar secara tulus dari hati. Ia dikenal tegas menegakkan disiplin dan keamanan tanpa kompromi, namun di saat yang sama menjadi tempat berteduh bagi mereka yang sedang putus asa, rindu keluarga, atau membutuhkan pendengar yang adil.
“Saya sudah berinteraksi dengan banyak petugas selama masa pembinaan. Namun beliau berbeda: sangat profesional dalam tugas, tak pernah main‑main soal aturan, tapi hatinya lembut dan sangat adil kepada siapa saja tanpa membeda‑bedakan. Sosok seperti beliau sangat layak mendapatkan perhatian penuh dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Jarang sekali kami temukan keselarasan sempurna antara kedisiplinan aparat dan kemanusiaan yang tulus seperti yang beliau tunjukkan,” ungkap salah satu mantan warga binaan yang kini telah kembali hidup bermasyarakat.
Pengakuan independen ini diperkuat dengan pernyataan resmi dari Perhimpunan Mantan Narapidana Berkarya, organisasi yang keberadaannya sah diakui lewat Surat Keputusan Kementerian. Diketuai oleh Moses Rudy Frans Timisela, didampingi Bendahara Tuan Paul Anderson Wariori, serta anggota panutan sekaligus teladan bagi anak‑anak Bapak Tavip Onisias Manobi, organisasi ini menyatakan sikap bulat:
“Kami seluruh pengurus dan anggota Perhimpunan Mantan Narapidana Berkarya, dengan suara bulat menyatakan: Komandan Jaga Yosua Etanoi adalah yang terbaik. Beliau layak dan sangat pantas mendapatkan apresiasi penuh dari seluruh mantan warga binaan yang tersebar di Papua Barat dan sekitarnya.”
Dukungan serupa dan sejalan juga disampaikan secara resmi oleh jajaran pimpinan tertinggi Persatuan Grup Ompreng Family. Ketua Umum Yusman Wonda didampingi Sekretaris Arnold Mandacan menegaskan:
“Kami Ketua Umum dan Sekretaris Persatuan Grup Ompreng Family menyatakan sependapat sepenuhnya. Komandan Jaga Yosua Etanoi membuktikan bahwa menjadi aparat pemasyarakatan tidak harus mengeraskan hati untuk dihormati. Justru kelembutan, keadilan, dan ketulusanlah yang membuat namanya abadi di hati ribuan orang. Sosok putra daerah ini telah menorehkan jejak kebaikan yang layak dikenang sepanjang masa.”
“Banyak orang bisa berkuasa karena pangkat, banyak orang bisa dipuji karena jabatan. Namun hanya sedikit orang yang dicintai karena hatinya, dan hanya orang yang berbuat baiklah yang namanya tidak akan pernah mati ditelan zaman.”Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia
Gelar “Komandan Jaga Terbaik” yang disematkan kepadanya bukanlah anugerah atasan, melainkan penilaian paling jujur yang lahir dari bawah, dari mereka yang paling tahu bagaimana sikapnya di balik pintu tertutup. Ia dihormati bukan karena seragam, melainkan karena perbuatannya; namanya selalu didoakan kebaikannya bahkan setelah mereka yang dijaganya telah melangkah bebas keluar gerbang lapas.
Melalui laporan independen ini, redaksi menyampaikan: negara tidak hanya membutuhkan aparat yang tegas, tapi juga aparat yang berhati. Yosua Etanoi adalah salah satu bukti nyata keberadaan mereka, sosok yang layak diangkat dan dijadikan teladan nasional.
Editor : Wawan
Laporan Independen & Wawancara Langsung:
Ardy Rayhan
Kepala Redaksi Wilayah Papua
📌 Laporan ini telah diverifikasi kebenarannya melalui keterangan langsung narasumber dan pernyataan resmi organisasi.

















