Blokade Selat Hormuz dan Goncangan Baru Ekonomi.Global

Opini773 Dilihat
banner 468x60

86NEWS.CO – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu arus distribusi energi dunia melalui Selat Hormuz kembali menunjukkan betapa rapuhnya fondasi ekonomi global saat ini.

Jalur sempit ini bukan sekadar lintasan kapal tanker, tetapi merupakan urat nadi energi dunia yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak global dan hampir 25% perdagangan gas alam cair (LNG) setiap hari.

banner 336x280

Ketika aliran tersebut terganggu, dampaknya tidak berhenti pada sektor energi, melainkan menjalar ke seluruh sistem ekonomi internasional.

Dalam konteks ekonomi global, gangguan di Selat Hormuz selalu memiliki efek berantai yang signifikan. Pengalaman historis menunjukkan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10% dapat mendorong inflasi global sekitar 0,2–0,4% dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia hingga 0,1–0,3%.

Kenaikan harga minyak dan gas akan langsung meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur hingga transportasi.

Akibatnya, harga barang dan jasa ikut terdorong naik, memicu inflasi yang meluas. Kondisi ini menjadi semakin kompleks karena inflasi yang bersumber dari energi cenderung sulit dikendalikan, mengingat sifatnya yang berasal dari sisi penawaran (supply shock), bukan semata-mata dari permintaan.

Lembaga seperti International Monetary Fund menegaskan bahwa volatilitas harga energi merupakan salah satu pemicu utama ketidakstabilan ekonomi global, terutama di tengah pemulihan ekonomi pascapandemi yang belum sepenuhnya kuat.

Sementara itu, World Bank mencatat bahwa lebih dari 70% negara berkembang adalah net importir energi, sehingga sangat rentan terhadap lonjakan harga energi global. Dalam situasi saat ini, risiko tersebut semakin nyata, terutama bagi negara-negara di Asia yang ketergantungan impornya tinggi.

Dalam situasi krisis ini, muncul satu fenomena yang menarik sekaligus mengkhawatirkan: negara-negara Asia kembali ke batu bara. India meningkatkan pembakaran batu bara untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik, Korea Selatan melonggarkan pembatasan produksi energi berbasis batu bara, sementara Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Filipina memperkuat penggunaan batu bara domestik sebagai sumber energi utama.

Pergeseran ini bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan refleksi dari tekanan besar yang dihadapi sistem energi global. Respons tersebut mencerminkan adanya disrupsi serius dalam pasar energi global.

Ketika pasokan LNG terganggu, negara-negara memilih sumber energi yang paling tersedia dan dapat diandalkan dalam jangka pendek. Batu bara kembali menjadi pilihan, bukan karena lebih efisien atau lebih bersih, tetapi karena lebih pasti dalam kondisi krisis.

Data menunjukkan bahwa sejak konflik meningkat, harga batu bara acuan Asia (Newcastle) telah naik sekitar 10–15%, mencerminkan lonjakan permintaan mendadak di kawasan.

Kembalinya batu bara dalam bauran energi Asia menjadi sinyal kuat bahwa transisi energi global masih jauh dari kata stabil. Padahal, menurut International Energy Agency, batu bara saat ini masih menyumbang lebih dari 40% emisi karbon sektor energi global, menjadikannya sumber energi paling intensif karbon. Dengan kata lain, krisis energi justru mendorong dunia kembali pada sumber energi yang selama ini ingin ditinggalkan.

Namun, pilihan tersebut tidak datang tanpa konsekuensi. Meningkatnya permintaan batu bara mendorong kenaikan harga di pasar internasional, yang pada akhirnya menambah tekanan bagi negara-negara berkembang.

Kenaikan harga energi, baik minyak, gas, maupun batu bara, menciptakan efek domino terhadap inflasi global. Dana Moneter Internasional memperkirakan bahwa tekanan energi menjadi salah satu kontributor utama inflasi global yang masih berada di kisaran 5–6% pada negara berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Harga transportasi meningkat, biaya logistik naik, dan pada akhirnya harga kebutuhan pokok ikut terdorong. Dalam situasi seperti ini, daya beli masyarakat menjadi tertekan, yang berpotensi menurunkan tingkat konsumsi global; padahal konsumsi menyumbang lebih dari 55% PDB dunia.

Di sisi lain, respons kebijakan moneter yang cenderung mengetat untuk mengendalikan inflasi justru berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Bank sentral di berbagai negara, termasuk Federal Reserve dan European Central Bank, telah menunjukkan kecenderungan mempertahankan suku bunga tinggi dalam menghadapi tekanan inflasi energi.

Namun, kebijakan ini juga berdampak pada penurunan investasi dan aktivitas ekonomi. Dunia pun dihadapkan pada risiko ganda: inflasi tinggi di satu sisi dan perlambatan ekonomi di sisi lain, sebuah kondisi yang mengarah pada stagflasi yaitu situasi yang pernah mengguncang ekonomi global pada dekade 1970-an.

Krisis di Selat Hormuz juga memperlihatkan gejala yang lebih dalam, yaitu meningkatnya fragmentasi ekonomi global. Negara-negara mulai lebih mengutamakan ketahanan domestik dibanding efisiensi global. Kebijakan seperti pembatasan ekspor energi, prioritas pasokan dalam negeri, serta peningkatan produksi domestik menjadi semakin umum.

Indonesia, misalnya, melalui kebijakan domestic market obligation (DMO) batu bara, memastikan pasokan energi dalam negeri tetap terjaga, tetapi pada saat yang sama turut memengaruhi dinamika pasokan regional. Fenomena ini menunjukkan bahwa globalisasi ekonomi yang selama ini menjadi fondasi pertumbuhan dunia mulai mengalami pergeseran.

Data menunjukkan bahwa sejak 2020, pertumbuhan perdagangan global melambat dari rata-rata 5–6% per tahun menjadi sekitar 3%, mencerminkan meningkatnya fragmentasi dan ketidakpastian global. Ketergantungan pada rantai pasok global yang panjang kini dianggap sebagai risiko, bukan lagi sebagai keunggulan.

Jika tren ini terus berlanjut, maka dunia akan bergerak menuju sistem ekonomi yang lebih terfragmentasi, di mana efisiensi dikorbankan demi ketahanan. Dalam jangka panjang, krisis ini dapat menjadi titik balik bagi arah ekonomi global. Ketahanan energi akan menjadi prioritas utama dalam kebijakan ekonomi setiap negara.

Investasi pada energi terbarukan diproyeksikan terus meningkat, dengan nilai global yang telah mencapai lebih dari USD 1,7 triliun per tahun menurut International Energy Agency. Namun, tanpa kesiapan sistem yang matang, setiap krisis akan terus memaksa dunia kembali ke energi lama.

Pada akhirnya, gangguan di Selat Hormuz adalah pengingat bahwa ekonomi global masih sangat rentan terhadap dinamika geopolitik. Dalam sistem yang saling terhubung, satu titik krisis dapat dengan cepat menyebar menjadi guncangan global yang luas.

Dunia saat ini berada pada persimpangan penting: tetap bergantung pada sistem lama yang rentan, atau mulai membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Jika tidak ada perubahan yang mendasar, maka krisis seperti ini bukanlah yang terakhir.

Sebaliknya, ia akan menjadi pola berulang yang terus membayangi stabilitas ekonomi global di masa depan. Mfd.-

Oleh : Mahfudnurnajamuddin
Guru Besar FEB UMI-Asdir II Program Pascasarjana PPs UMI Makassar

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *