MBG Bangkitkan Ekonomi Gampong, Mitra Dapur di Aceh Selatan Apresiasi Kinerja BGN Aceh

Berita, Uncategorized148 Dilihat
banner 468x60

Aceh Selatan, 86News.co – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Aceh Selatan tidak hanya berfungsi sebagai upaya pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi juga berkembang menjadi penggerak sosial-ekonomi berbasis gampong.

Seluruh mitra pengelola dapur MBG di wilayah yang dikenal sebagai Kota Naga itu menyatakan apresiasi atas tata kelola yang transparan dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

banner 336x280

Geliat ekonomi lokal tampak dari aktivitas dapur-dapur gampong yang setiap pagi memproduksi ribuan porsi makanan sehat. Program ini melibatkan ratusan tenaga kerja, mayoritas perempuan, serta menyerap hasil pertanian dan peternakan rakyat, mulai dari sayur-mayur, beras, hingga telur ayam kampung.

Salah satu mitra pelaksana MBG, Evi Susanti, pemilik dapur di Gampong Padang, Kecamatan Tapaktuan, yang bernaung di bawah Yayasan Ruang Kito Basamo, menyebut program ini sebagai jawaban atas kebutuhan masyarakat akan kebijakan yang menyentuh langsung kehidupan warga.

“Kehadiran MBG ini adalah berkah. Kami, seluruh mitra di Aceh Selatan, benar-benar merasakan dampaknya. Program ini menghidupkan UMKM lokal, pedagang pasar, peternak telur, hingga tukang becak yang ikut mengantar makanan. Semua merasakan manfaat ekonominya,” ujar Evi, Selasa (20/1/2026).

Menurut Evi, dampak paling nyata dari MBG adalah multiplier effect ekonomi di tingkat gampong. Sejak program berjalan, daya beli masyarakat di sekitar dapur meningkat seiring terbukanya lapangan kerja baru bagi ibu rumah tangga dan pemuda setempat.

Keberhasilan pelaksanaan MBG di Aceh Selatan, lanjut Evi, tidak terlepas dari peran Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Aceh yang dinilai menjalankan fungsi pengawasan secara profesional dan humanis. Para mitra dapur secara kolektif memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Kepala BGN Aceh, Mustafa Kamal.

“Di bawah kepemimpinan Bapak Mustafa Kamal, BGN hadir bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai mitra yang solutif. Setiap kendala di lapangan direspons cepat, standar gizi tetap dijaga tanpa memberatkan mitra kecil,” tambahnya.

Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai berhasil menumbuhkan rasa memiliki di kalangan pengelola dapur gampong. Standar higienitas dan kualitas bahan baku tetap diawasi secara ketat, namun tetap mengakomodasi kearifan lokal Aceh.

Secara provinsi, keberhasilan Aceh Selatan menjadi bagian dari capaian besar implementasi MBG di Aceh. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 553 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi penuh di berbagai kabupaten/kota.

Adapun sejumlah dampak positif yang mulai terlihat dari pelaksanaan MBG di Aceh, antara lain:

Ketahanan pangan, melalui rantai pasok pendek dari petani langsung ke dapur sekolah;
Stabilitas gizi, dengan indikasi penurunan kasus malnutrisi anak di wilayah pelosok;
Kemandirian ekonomi, lewat pemberdayaan yayasan dan koperasi lokal sebagai tulang punggung penyediaan makanan.

Bagi masyarakat Aceh Selatan, Program Makan Bergizi Gratis menjadi bukti bahwa pembangunan sumber daya manusia dimulai dari pemenuhan gizi anak-anak sekolah, dikelola secara amanah oleh masyarakat lokal, serta didukung kebijakan negara yang tepat sasaran. (Id)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *