Leo Tolstoy : Jangan Banyak Bicara Denganku Tentang Agama, Tetapi Izinkan Aku Melihat Agama dan Prilakumu

Opini327 Dilihat
banner 468x60

86NEWS.CO – Sudah menjadi sunnatullah, bahwa pada setiap bulan suci ramadhan, nilai nilai agama diterapkan secara maksimal dalam kehidupan sehari hari dan berhari hari oleh penganutnya.

Mereka rame rame bertobat dan berjanji sepenuh hati untuk tidak berperilaku buruk dan tercelah, pokoknya perilakunya dipermirip perilaku malaikat dan diupayakan sempurna menurut pandangan agama.

banner 336x280

Bulan suci itu, ramadhan 1447H, baru saja kita berpisah dengannya, berubah kah kita setelahnya, masih adakah cahaya Tuhan tersisa (baca: Nur Ilahi) yang terpancar dari ucapan dan perilaku kita buat mengcahayai lingkungan sekitar.

Ataukah boleh jadi justru kitalah yang kembali menjadi biang kerok datangnya kegelapan dan menjadi pemantik pertengkaran dan rupa rupa perselisihan dalam diam dan sunyi, mungkin kita lupa, kita di bumi nya Allah, bukan bumi kita, bukan bumi ku, bukan pula bumi mu.

Maka, Leo Tolstoy mengingatkan dengan mengatakan bahwa: jangan banyak bicara denganku tentang agama, tetapi izinkan aku melihat agama dalam perilakumu.

Selanjutnya, Leo Tolstoy menegaskan bahwa agama bukan hanya tentang doktrin tetapi juga tentang perilaku (baca: akhlaq), agama mestinya bukan untuk dipakai mengsiasati dan memanipulasi situasi melalui ritualitas dan rutinitas tipu tipu, tendensius.

Kalimat tersebut mencerminkan sudut pandang Leo Tolstoy terkait nilai nilai agama seharusnya terlihat dalam perilaku setiap orang dan menggambarkan apa yang dipercayai dan yakini.

Rasulullah SAW bersabda: buitsu li-utammima makarimal akhlak yang artinya: sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak, untuk mengangkat harkat dan martabat manusia (HR. Al-Baihaqi).

Kata orang tua kita dahulu kala: padecengi ampe ampemu, nasaba’ ampe ampemu mitu namuriaseng tau, artinya: perbaiki perilakumu/akhlakmu, karena hanya dengan itu kau disebut manusia, aja’ mumatempo, aja’ mumatanre akka, dahulukan adab baru ilmu, taroi siri’ alemu, narekko de’gaga siri’mu, inrengko’, simpanlah rasa malu, kalau tidak ada malumu, pinjamko.

Siapa Leo Tolstoy ?.

Leo Tolstoy (1820 – 1910) adalah seorang filsuf/pemikir, penulis dan aktivis sosial asal Rusia, karya ilmiah Leo Tolstoy antara lain: perang dan damai (war and peace), anna karenina dan karya karya ilmiah lainnya yang telah diterjemahkan kedalam banyak bahasa dan memiliki pengaruh besar terhadap sastra dunia.

Soal soal yang di nafasi oleh pandangan kapitalisme dan materialisme, mendapat banyak kritik dari Leo Tolstoy, dia menganggap bahwa kebahagiaan sejati itu dapat ditemukan dalam kehidupan sederhana dan spiritualitas.

Kewajiban spiritualitas dalam bulan suci ramadhan telah ditunaikan seperti berdo’a dan bermeditasi, mengenal diri sendiri terkait kelebihan dan kekurangan yang dimiliki serta mengembangkan kesadaran untuk memaknai hidup, memahami fikiran, perasaan dan tindakan kita.

Kita semua telah berpisah dengan bulan suci ramadhan 1447H, waspadalah !!!, diluar sana ada iblis/syetan menghadang, ada godaan dunia yang gemerlap penuh tipu tipu siap menipu, siap mendorong kita untuk ingkar pada apa yang telah kita perbuat di bulan suci ramadhan dengan baik dan benar.

Waspadalah !!!, boleh jadi iblis/syetan itu ada di sekitar kita yang aktif bersekongkol dan ber kawan palsu dalam kejahatan kongkalikong/menyembelih hak orang lain, atau mungkin saja iblis/syetan itu adalah diri kita sendiri yang menjelma berubah menyerupai makhluk manusia yang siap menggoda untuk menolak perilaku mulia seperti: menolong, tidak nyolong, bersedekah, berlaku jujur, tidak korupsi, tidak merampok hak orang tidak mampu, tidak menggunjing, tidak menggunting dalam lipatan, tidak melukai hati orang, tidak menggibah dan tidak memfitnah.

Jangan remehkan perilaku baik, jangan sederhanakan perilaku buruk, jangan banyak bicara tentang agama jika engkau tidak sanggup memperlihatkan agama dalam perilakumu, karena: kabura maqtan indallahi an takulu ma la taf’ alun (QS. Ash-Shaff ayat 3). Wsslm.

Oleh : Dr. Abbas Selong, Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis UMI Makassar- Penasehat LSM Maung (Monitor aparatur untuk Negara dan Golongan) Provinsi Sulawesi Selatan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *