Paradoks Kurban: Konsumsi Daging Melonjak, Indeks Gizi Nasional Tetap Stagnan

Opini266 Dilihat
banner 468x60

86NEWS.CO – Setiap Hari Raya Idul adha Indonesia mengalami lonjakan konsumsi daging dalam skala besar. Jutaan hewan kurban disembelih dan didistribusikan kepada masyarakat di berbagai daerah. Momentum ini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang sangat besar di sektor peternakan dan pangan nasional.

Data Kementerian Agama RI mencatat, pada Iduladha 2025 jumlah hewan kurban nasional mencapai sekitar 1,85 juta ekor, terdiri atas 627 ribu sapi dan kerbau serta 1,22 juta kambing dan domba. Nilai ekonominya diperkirakan menembus lebih dari Rp18 triliun.

banner 336x280

Sementara itu, Pusat Kajian Strategis BAZNAS RI memperkirakan potensi ekonomi kurban nasional mencapai Rp34,3 triliun dengan produksi daging lebih dari 195 ribu ton.

Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa kurban memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luar biasa. Namun di balik melimpahnya distribusi daging setiap Iduladha, terdapat persoalan mendasar yang perlu mendapat perhatian serius pemerintah: mengapa konsumsi protein hewani meningkat tajam setiap tahun, tetapi kualitas gizi masyarakat Indonesia belum mengalami perubahan signifikan?

Paradoks ini memperlihatkan bahwa persoalan gizi nasional tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, melainkan juga menyangkut ketimpangan ekonomi dan daya beli masyarakat. Bagi sebagian kelompok berpenghasilan rendah, konsumsi daging masih menjadi sesuatu yang mahal dan tidak mudah diakses dalam kehidupan sehari-hari. Akibat tekanan ekonomi, banyak keluarga lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar dibanding kualitas nutrisi makanan.

Kenaikan harga bahan pokok, biaya pendidikan, transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya membuat pola konsumsi masyarakat berubah. Dalam kondisi ekonomi yang terbatas, makanan bergizi sering kali menjadi pilihan sekunder. Tidak sedikit keluarga yang mengandalkan makanan murah dan mengenyangkan, meskipun kandungan gizinya rendah.

Akibatnya, konsumsi protein hewani seperti daging, ikan, telur, dan susu belum menjadi bagian rutin dari pola makan sebagian masyarakat. Momentum Iduladha akhirnya menjadi salah satu kesempatan langka bagi kelompok rentan untuk menikmati asupan protein dalam jumlah lebih baik dibanding hari-hari biasa.

Di sinilah letak paradoks tersebut. Konsumsi daging memang melonjak saat kurban, tetapi peningkatan itu bersifat sementara dan belum mampu memperbaiki kualitas gizi secara berkelanjutan. Setelah Iduladha berlalu, sebagian besar masyarakat kembali pada pola konsumsi sebelumnya yang minim protein dan rendah variasi nutrisi.

Kondisi ini menjelaskan mengapa berbagai persoalan gizi seperti stunting, anemia, dan ketimpangan akses pangan sehat masih menjadi tantangan nasional. Perbaikan kualitas sumber daya manusia tidak dapat bergantung pada lonjakan konsumsi sesaat, melainkan membutuhkan pola makan sehat yang berlangsung secara konsisten.

Momentum kurban sesungguhnya memperlihatkan fakta penting bahwa Indonesia tidak kekurangan sumber pangan, tetapi masih menghadapi persoalan distribusi dan akses ekonomi terhadap makanan bergizi.

Pemerintah perlu menjadikan fenomena ini sebagai bahan evaluasi dalam kebijakan pangan dan pembangunan manusia. Program perbaikan gizi tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sesaat atau intervensi musiman, tetapi harus terintegrasi dengan penguatan ekonomi masyarakat.

Pertama, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga pangan bergizi agar lebih terjangkau bagi masyarakat kecil. Selama protein hewani tetap mahal, ketimpangan konsumsi gizi akan terus terjadi

Kedua, penguatan peternakan rakyat harus menjadi prioritas strategis. Tingginya kebutuhan hewan kurban setiap tahun dapat menjadi peluang besar untuk meningkatkan produksi lokal, memperluas lapangan kerja di pedesaan, dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Ketiga, distribusi daging kurban perlu diarahkan lebih produktif dan berkelanjutan. Pemerintah daerah bersama lembaga sosial dan keagamaan dapat mengembangkan sistem pengolahan daging beku, makanan siap saji bergizi, hingga program bank protein bagi masyarakat rentan agar manfaat kurban tidak berhenti dalam hitungan hari.

Keempat, edukasi gizi keluarga juga harus diperkuat. Masyarakat perlu memahami bahwa kualitas gizi tidak hanya ditentukan oleh konsumsi daging, tetapi juga keseimbangan nutrisi, sanitasi, dan pola hidup sehat secara menyeluruh.

Paradoks kurban sesungguhnya menjadi cermin bahwa persoalan gizi Indonesia sangat berkaitan erat dengan kondisi ekonomi masyarakat. Selama akses terhadap pangan bergizi masih bergantung pada momentum tahunan, maka kualitas gizi nasional akan sulit mengalami lompatan besar.

Idul adha mengajarkan nilai kepedulian dan keadilan sosial. Karena itu, semangat kurban seharusnya tidak berhenti pada pembagian daging sesaat, tetapi menjadi momentum untuk membangun sistem pangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Di tengah besarnya potensi ekonomi kurban setiap tahun, tantangan terbesar bangsa ini adalah memastikan bahwa peningkatan konsumsi pangan benar-benar berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan masyarakat secara luas.(Mfd),-

Oleh : Mahfud Nurnajamuddin, Guru Besar FEB UMI- Asdir II PPs UMI Makassar

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *