Chili dan Runtuhnya Sebuah Rezim

Opini246 Dilihat
banner 468x60

86NEWS.CO – Keinginan Spanyol untuk tetap menguasai Chili mengakibatkan beberapa kali terjadi pertempuran.

Puncaknya, saat Spanyol kembali menyerang Chili yang dikenal dengan nama Pertempuran Chacabuco.

banner 336x280

Spanyol dikalahkan secara telak pada 12 Februari 1817.

Proklamasi Kemerdekaan

Setahun setelah mengalahkan Spanyol, Chili kemudian memproklamasikan negerinya sebagai republik merdeka pada 12 Februari 1818.

Ibukota Chili adalah Santiago. Kota tersebut berada di lembah subur, dikelilingi oleh sumber daya alam yang melimpah.

Konflik Berkepanjangan

Setelah merdeka dari Spanyol, Chili memasuki tahun-tahun panjang konflik dengan negara tetangga.

Chili pernah berperang dan mengalahkan negara tetangganya Peru dan Bolivia tahun 1879-1883.

Belum lepas dari konflik, tahun 1918 terjadi persoalan internal di Chili. Konflik Presiden dengan kongres Nasional.

Kemudian kudeta militer tahun 1924, hingga terpilihnya presiden tahun 1964 dengan mayoritas mutlak yang didukung oleh Partai Kristen Demokrat.

Reformasi

Setelah itu barulah Chili melakukan reformasi besar-besaran, khususnya di bidang pendidikan, perumahan dan reformasi agraria.

Chili juga melakukan nasionalisasi perusahaan tambang tembaga.

Pemilu Chili 1970 dimenangkan oleh Senator Salvador Allende dari Partai Sosialis Chili.

Barat terutama AS tentu sangat tidak menghendaki hasil tersebut karena berhaluan beda.

Tidak lama setelah Senator Salvador Allende menang, terjadi pelarian modal dan penarikan deposito besar-besaran.

Bahkan, penurunan produksi, serta pengangguran bertambah.

Hal tersebut memicu terjadinya krisis ekonomi, hiperinflasi mencapai 600- 800 %, kemudian diperparah dengan gelombang mogok kerja.

Krisis ekonomi yang berdampak ketidak stabilan politik.

Kudeta Militer

Mahkamah Agung Chili akhirnya merestui perebutan kekuasaan.

Kudeta militer pun terjadi pada tanggal 11 September 1973.

Ketika itu Jenderal Augusto Pinochet mengambil alih kekuasaan.

Salvador Allende kemudian dinyatakan memilih bunuh diri pada tanggal yang sama 11 September 1973.

Proses pengalihan kekuasaan melalui kudeta militer di Chili, Tampaknya AS tidak memunculkan prinsip yang dipegang selama ini sebagai negara yang terdepan di dunia yang menentang kudeta militer.

Bahkan, justru mendukung kudeta militer untuk menyingkirkan tokoh yang tidak dikehendaki karena berhaluan beda.

Kasus tewasnya Salvador Allende menjadi kontroversi dengan dibeberkannya fakta mengejutkan pada Juni 2011 oleh salah satu stasiun televisi milik negara Chili, TVN.

Setelah jenazah Allende digali kembali lalu dilakukan pemeriksaan foreksik.

Kesimpulannya, Salvador Allende bukan tewas bunuh diri seperti yang diberitakan.

Tetapi tewas ditembak dibawah dagunya dengan senapan kaliber kecil.

Temuan bahwa Salvador Allende bukan tewas karena bunuh diri tetapi karena dibunuh menunjukkan bahwa pelanggaran HAM dapat saja diabaikan tergantung kepentingan yang ada.

Cukup beralasan pandangan yang mengatakan sebuah rejim di suatu negara akan bertahan jika dikehendaki oleh Barat terutama AS.

Atau sebaliknya bisa runtuh jika rejim yang memerintah tersebut tidak dikehendaki atau kepentingannya berbeda.

Belajar dari Chili

Sikap lazim yang ditempuh oleh pihak asing terhadap suatu negara sangat tergantung kepentingannya.

Karena itu, pemimpin Indonesia harus mampu membaca arah perubahan dunia dengan kepala dingin dan hati berpihak kepada bangsa.

Mereka harus memahami peta geopolitik, mengenali jaringan kepentingan yang bekerja di dalam negeri, serta memiliki keberanian menjaga kedaulatan negara dari berbagai bentuk intervensi yang dapat menggerus kepentingan nasional.

Ukuran keberhasilan seorang penyelenggara negara adalah seberapa teguh ia menempatkan kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia di atas kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan.

Indonesia adalah warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

Di tengah dunia yang semakin penuh persaingan, Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 harus tetap menjadi bintang penuntun.

Keduanya bukan sekadar dokumen sejarah, juga merupakan jiwa yang menjaga arah perjalanan bangsa.

Selama para pemimpin setia pada nilai-nilai itu, Indonesia akan tetap berdiri tegak, berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan bermartabat di hadapan dunia.

Oleh : Mubha Kahar Muang
Mantan Anggota DPR RI

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *