Tapaktuan, 86News.co – Harga minyak pala asal Aceh Selatan dilaporkan terus mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan petani pala yang selama ini menggantungkan hidup dari komoditas unggulan daerah tersebut.
Penurunan harga minyak pala diduga kuat dipicu oleh praktik penjualan bunga pala ke luar daerah, sementara ketel penyulingan lokal hanya mengolah biji pala. Akibatnya, kualitas minyak pala yang dihasilkan di Aceh Selatan mengalami penurunan dan kalah bersaing di pasar.
Secara kualitas, minyak pala Aceh Selatan juga mengalami degradasi. Dahulu, kualitas minyak pala asal Aceh Selatan berada pada kisaran mirisipi (specific gravity) sekitar 9, namun saat ini mengalami penurunan menjadi sekitar 7 sekian. Penurunan ini berpengaruh langsung terhadap nilai jual minyak pala di pasaran.
Khairuman, yang akrab disapa Keuchik Khairul, salah seorang pemilik ketel pala di Aceh Selatan, menegaskan bahwa bunga pala memiliki peran krusial dalam menentukan mutu minyak pala.
“Bunga pala adalah penentu utama aroma dan kualitas minyak. Jika bunga dijual ke luar daerah sementara ketel di sini hanya mengolah biji, maka kualitas minyak pala Aceh Selatan pasti menurun. Dampaknya langsung terasa pada harga yang ikut terpuruk,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).
Menurut para petani, kondisi tersebut menyebabkan nilai jual minyak pala Aceh Selatan tidak lagi stabil seperti sebelumnya. Padahal, pala merupakan komoditas utama yang sejak lama menjadi sumber penghidupan masyarakat secara turun-temurun.
“Kami ini petani kecil. Jika harga minyak pala terus menurun, dampaknya langsung kami rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Biaya pendidikan anak dan kebutuhan rumah tangga sangat bergantung pada hasil pala,” ujar Keuchik Khairul dengan nada prihatin.
Para petani juga menyampaikan harapan kepada para agen pengumpul agar tidak terlalu tergiur oleh selisih harga yang sedikit lebih tinggi dari luar daerah dengan mengorbankan kualitas produk lokal.
“Kami berharap agen tidak hanya melihat selisih harga luar daerah. Kalau semua bunga pala dibawa keluar, ketel lokal mati, kualitas minyak kita jatuh, dan yang rugi tetap petani,” katanya.
Masyarakat menilai, menjaga agar seluruh bagian pala diolah di daerah sendiri merupakan kunci untuk mempertahankan kualitas dan harga minyak pala Aceh Selatan.
Selain kepada agen, harapan besar juga disampaikan kepada pemerintah daerah agar hadir memberikan solusi nyata demi melindungi petani pala.
“Kami berharap pemerintah ikut mengatur tata niaga pala ini. Jangan sampai komoditas unggulan daerah justru merugikan masyarakatnya sendiri,” ujar Keuchik Khairul mewakili petani.
Para petani berharap pemerintah dapat mendorong penguatan industri penyulingan lokal, baik melalui pembinaan kualitas produksi, pengawasan distribusi, maupun regulasi agar bunga pala tidak seluruhnya keluar daerah.
“Kalau pengolahan dilakukan utuh di Aceh Selatan, kualitas minyak terjaga, harga stabil, dan petani bisa sejahtera. Itu yang kami inginkan,” tegasnya.
Mereka juga menekankan bahwa tujuan utama dari pengelolaan pala bukan sekadar perdagangan, melainkan kesejahteraan petani sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
“Harapan kami sederhana, petani pala bisa makmur dari hasil kebunnya sendiri. Pala Aceh Selatan harus jadi kebanggaan daerah, bukan korban permainan pasar,” pungkas Keuchik Khairul. (Id)











