Dolar Perkasa, Rupiah Tertekan, Apa Yang Harus Dilakukan Pemerintah?

Opini255 Dilihat
banner 468x60

86NEWS – Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.508 per dolar AS bukan sekadar gejolak biasa di pasar keuangan. Angka tersebut telah melampaui asumsi makro APBN 2026 dan menjadi sinyal serius bahwa tekanan eksternal maupun domestik terhadap ekonomi Indonesia semakin kompleks. Di tengah menguatnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global, pemerintah dituntut bergerak cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Langkah pemerintah mengaktifkan Bond Stabilization Fund (BSF) patut diapresiasi sebagai upaya strategis menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) sekaligus mempertahankan kepercayaan investor.

banner 336x280

Kebijakan yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin membiarkan pasar obligasi bergerak tanpa kendali.

Ketika yield SBN meningkat tajam, investor asing berpotensi mengalami capital loss. Jika kondisi ini dibiarkan, arus keluar modal asing dapat semakin besar dan memperparah tekanan terhadap rupiah.

Di sinilah BSF menjadi instrumen penting. Pemerintah berupaya menahan lonjakan yield melalui intervensi di pasar obligasi menggunakan dana cadangan seperti Sisa Anggaran Lebih (SAL).

Tujuannya sederhana namun sangat krusial, yakni menjaga stabilitas harga obligasi agar investor tidak panik dan tetap mempertahankan investasinya di Indonesia.

Namun, perlu dipahami bahwa intervensi di pasar obligasi hanyalah solusi jangka pendek. Persoalan mendasar yang sedang dihadapi rupiah jauh lebih luas dibanding sekadar fluktuasi pasar keuangan.

Penguatan dolar AS saat ini dipicu oleh tingginya suku bunga global, ketidakpastian geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga meningkatnya preferensi investor terhadap aset safe haven. Akibatnya, hampir seluruh mata uang negara berkembang mengalami tekanan, termasuk rupiah.

Dalam situasi seperti ini, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi teknis di pasar keuangan. Ada beberapa langkah strategis yang harus segera dilakukan agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.

Pertama, memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Pemerintah dan Bank Indonesia harus menunjukkan sinyal kebijakan yang konsisten agar pasar percaya bahwa stabilitas ekonomi tetap terkendali. Pasar bukan hanya melihat kemampuan pemerintah menyediakan likuiditas, tetapi juga membaca kredibilitas kebijakan ekonomi secara keseluruhan.

Kedua, menjaga kredibilitas fiskal negara. Defisit anggaran harus tetap terkendali, pengelolaan utang dilakukan secara hati-hati, dan belanja negara diarahkan pada sektor produktif yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Negara dengan fundamental fiskal yang kuat cenderung lebih dipercaya investor meskipun sedang menghadapi tekanan global.

Ketiga, memperkuat fundamental sektor riil. Stabilitas rupiah tidak bisa hanya bergantung pada arus modal asing jangka pendek. Indonesia perlu memperkuat ekspor bernilai tambah, mempercepat hilirisasi industri, serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri agar kemampuan menghasilkan devisa semakin kuat.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat basis investor domestik agar pasar keuangan nasional tidak terlalu rentan terhadap perubahan sentimen global. Ketergantungan yang tinggi terhadap investor asing membuat pasar obligasi dan nilai tukar sangat mudah bergejolak ketika terjadi capital outflow. Penguatan peran investor domestik, dana pensiun, asuransi, dan lembaga keuangan nasional menjadi langkah penting untuk menciptakan stabilitas pasar yang lebih berkelanjutan.

Di sisi lain, dampak pelemahan rupiah terhadap masyarakat tidak boleh diabaikan. Kenaikan dolar AS berpotensi meningkatkan harga barang impor, biaya produksi industri, hingga tekanan inflasi. Dunia usaha, khususnya UMKM, menjadi kelompok yang cukup rentan karena banyak pelaku usaha masih bergantung pada bahan baku impor. Jika kondisi ini berlangsung lama, daya beli masyarakat dapat ikut melemah dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya dijaga di pasar keuangan, tetapi juga dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Pengendalian harga pangan, stabilitas energi, serta dukungan terhadap sektor usaha kecil menjadi langkah penting agar tekanan nilai tukar tidak berkembang menjadi tekanan sosial-ekonomi yang lebih luas.

Pada akhirnya, penguatan dolar AS memang sulit dihindari dalam situasi global saat ini. Namun Indonesia tetap memiliki peluang untuk memperkuat daya tahan ekonominya. Pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum evaluasi untuk membangun struktur ekonomi yang lebih mandiri, produktif, dan tidak terlalu bergantung pada arus modal asing jangka pendek. Sebab, stabilitas rupiah bukan hanya soal menjaga angka kurs, tetapi juga tentang membangun kepercayaan terhadap kekuatan fundamental ekonomi nasional dan masa depan Indonesia. (Mfd)

Oleh : Mahfufnurnajamuddin, Guru Besar FEB / Asdir II PPs Umi Makassar

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *